Archive for November, 2005

Tidur Teratur, Cegah Penuaan Dini

Wednesday, November 23rd, 2005

Untuk mempertahankan hidupnya, manusia dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut, orang harus bekerja. Orang yang gila kerja, ia akan bekerja siang dan malam, bahkan sepertinya tidak mengenal waktu, sehingga ia mengorbankan satu hal yang sangat berarti, yaitu istirahat, diantaranya adalah tidur.

Jangan heran, karena kesibukannya, ada orang yang hanya mempunyai waktu tidur sangat terbatas. Kurang tidur akan mengakibatkan pengaruh yang negatif pada tubuh, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

TIDUR
Tidur adalah suatu proses yang sangat penting bagi manusia, karena dalam tidur terjadi proses pemulihan, proses ini bermanfaat mengembalikan kondisi seseorang pada keadaan semula, dengan begitu, tubuh yang tadinya mengalami kelelahan akan menjadi segar kembali.

Jika proses ini terhambat, organ tubuh tak bisa bekerja dengan maksimal, akibatnya orang yang kurang tidur akan cepat lelah dan mengalami penurunan konsentrasi, tak hanya itu, ada hal lain yang lebih berbahaya, kurang tidur akan menyebabkan proses penuaan bisa terjadi lebih cepat.

HORMON SOMATROPIN
Hormon Somatropin adalah suatu hormon yang sangat berperan penting untuk menghambat proses penuaan, dan hormon ini bisa dihasilkan ketika tidur. Hormon Somatropin bekerja untuk regenarasi sel. Ketika jadwal tidur seseorang mengalami gangguan, hormon tersebut tidak dapat diproduksi secara baik, akibatnya regenerasi sel akan terhambat, padahal tanpa regenarasi, sel-sel yang mati tidak akan tergantikan, kerja selpun akan terhambat.

Jika kerja sel terhambat, berbagai metabolisme tubuh juga tidak akan berlangsung dengan baik. Sehingga orang yang kurang tidur akan lebih cepat tua, lambat laun akan terjadi kemunduran fungsi pada berbagai organ tubuh, manifestasinya, bisa terjadi berbagai macam penyakit.

KUALITAS TIDUR
Kualitas tidur juga perlu menjadi perhatian, kualitas tidak bergantung pada jumlah, namun bergantung pada pemenuhan kebutuhan tubuh akan tidur. Setiap orang membutuhkan waktu tidur yang berbeda, ada yang butuh sekitar 10 jam, ada pula yang cuma 6 jam, lamanya waktu tidur bergantung individu, dan yang dapat mengukur adalah diri kita sendiri. Tetapi menurut aturan kesehatan, kebutuhan tidur untuk anak-anak adalah 8 sampai 10 jam, sedangkan untuk orang dewasa membutuhkan 6 sampai 8 jam.

Indikator tercukupinya waktu tidur tersebut adalah kondisi tubuh waktu bangun tidur, jika merasa segar setelah bangun tidur, berarti tidur kita sudah cukup, jika badan masih terasa loyo ketika bangun tidur berarti tidurnya masih kurang. Karena itulah penting untuk memenuhi kebutuhan tidur, jangan sekali-kali memotong waktu tidur dengan alasan apapun, sebaiknya jadwal tidur sehari-hari diatur lebih baik supaya bisa mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Jika waktu tidur belum juga tercukupi dengan baik, penting untuk mengkonsumsi antioksidan. Selain membantu menghambat proses penuaan, antioksidan juga berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Tubuh yang sehat dan segar adalah dambaan setiap orang, Oleh sebab itu, adalah penting bagi Anda untuk menjaga tidur Anda. Pastikan Anda mendapatkan tidur yang mencukupi setiap hari. Karena dengan kondisi yang segar, kita bisa melakukan aktivitas lebih baik.

Makna Halal Bihalal

Tuesday, November 22nd, 2005

Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama.

Hemat saya paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasaan.

Menurut pandangan pertama – dari segi hukum – kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Jika demikian halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.

Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang makruh atau yang tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (suami-istri, misalnya) merupakan sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. Atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak dikaitkan dengan pengertian hukum.

Menurut pandangan kedua – dari segi bahasa – akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti “menyelesaikan problem”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, dan “mencairkan yang beku”.

Jika demikian, ber-halal bihalal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikata yang membelenggi, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghalang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh, dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungandari kesalahpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang berku dihangantkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.

Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan Anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehungga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal. Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.[Oleh Prof. Dr. Quraish Shihab dari Buku Lentera Hati]

Anda Mulai Kehilangan Teman

Monday, November 21st, 2005

Usia 20-an dan 30-an dalam berbagai kehidupan orang muda adalah salah satu kehidupan yang penuh dengan perubahan misalnya pekerjaan baru, kekasih baru atau bahkan suatu kehidupan yang berbeda misalnya pernikahan dapat mengurangi kira-kira 50% teman.

Para ahli berpendapat bahwa kewajiban terhadap pasangan, anak-anak dan pekerjaan cenderung melepaskan waktu luang dan saling berhubungan dengan teman. Kejadan lain termasuk pasangan yang telah membuat persahabatan bersama-sama, tetapi karena berpisah, seseorang dari pasangan tersebut tak terhindarkan mengakhir ikatan itu.

Mencari teman akan lebih sulit ketika Anda beranjak tua. Tetapi jangan kautir, Anda mungkin tidak memiliki teman yang kualitas sama dengan yang Anda miliki pada awal kehidupan Anda. Tidak terlambat untuk membuat yang baru dan mungkin bisa jadi jauh lebih baik:

Teman fitness
Tempat senam menjadi tempat ideal mencari teman tetapi mengikuti olahraga dalam bentuk kelas dimana Anda dapat saling mengikatkan dan berbagi dengan orang yang cocok untuk membuat teman baru.Di sini Anda dapat berbagi kepentingan dan jauh lebih menyenangkan dan terdorong berolahraga dengan suatu kelompok dibanding sendiri.

Teman e-mail
Selalu ada kelompok teman yang tidak lagi bisa sering berhubungan karena suatu kesibukan atau jarak yang jauh. Kemajuan internet dengan fasilitas e-mail menjadi salah satu jembatan yang dapat dilakukan untuk mencari teman. Ini lebih mudah dan menyenangkan dibanding dengan bertatap muka yang terasa sulit karena mengahabiskan banyak waktu.

Teman kerja
Jika Anda menghabiskan waktu di tempat kerja, wajar jika Anda menemukan teman baik di tempat kerja tetapi hati-hati dengan politik kantor. Jika Anda tengah berusaha berteman di kantor, yakinlah Anda melakukanya sebagai kelompok, jauhi pembicaraan menjelek-jelekan seseorang.

Teman yang memiliki minat khusus
Jika Anda seorang pemalu, mungkin tidak mudah untuk pergi ke tempat senam, bergabung dalam kelas tertentu untuk bertemu orang. Mencari orang yang memiliki minat yang sama dengan Anda mungkin sebagai salah satu cara.

Cobalah bergabung dengan klub taman baca jika Anda senang membaca dan membicarakan tentang itu, atau bahkan paduan suara jika senang menyanyi. Organisasi sosial dan keagamaan juga tempat yang tepat bertemu orang yang memiliki pandangan yang sama dengan Anda.

Efektifkah Waktu Anda

Friday, November 18th, 2005

Apa itu waktu? Definisi menurut kamus, waktu adalah tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik, masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Tetapi kenyataannya, beberapa diantara kita menemukan waktu hanya melakukan segala sesuatu, apakah di masa lalu, sekarang atau masa depan sebagai suatu perjuangan yang tiada henti.

Antara pekerjaan, keluarga, dan interaksi sosial, waktu adalah suatu pertarungan yang terjadi sehari-hari tetapi tidak selalu menang. Jika Anda ingin merasa bebas dari jadwal Anda, penting untuk mengatur waktu dengan efektif sehingga Anda tidak selalu dikejar "ekor" sendiri.

Awasi waktu dengan beberapa petunjuk mudah ini sehingga dapat memberikan Anda waktu dalam hari-hari, minggu atau bulan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar ingin dilakukan.

Buatlah kalender harian, mingguan, bulanan
Mengidentifikasi apa yang paling menyita waktu Anda adalah langkah pertama untuk mengatur waktu lebih baik.

Jika Anda mampu mengidentifikasi hal dalam kehidupan Anda dimana Anda bisa menghemat satu jam di sini atau setengah jam di sana. Anda juga perlu mengidentifikasi apa sebenarnya yang Anda inginkan dengan waktu bebas yang akan dilakukan.

Buat daftar kegiatan yang jangan atau perlu dilakukan
Buatlah daftar kegiatan kegiatan apa yang harus dilakukan atau jangan dilakukan. Jujur dan jangan bersifat diskriminatif, dan yakin menyusun kegiatan tersebut yang benar-benar harus Anda lakukan.

Kembangkan penghemat waktu
Menggabungkan kegiatan mungkin menjadi penghematan waktu terbaik. Misalnya, Jika Anda perlu berbelanja tetapi ingin menghabiskan waktu bersama teman juga, kenapa tidak pergi berbelanja sambil ngajak teman.

Kualitas bukan kuantitas
Sebagian besar kita yang bekerja keras, hal yang paling sulit adalah menemukan waktu untuk dihabiskan dengan orang yang dikasih.

Jika Anda seorang pasangan yang ingin menghabiskan waktu bersama-sama, gunakan waktu untuk berkencan. Ingat, semua tergantung pada Anda untuk meyakinkan memprioritaskan kehidupan Anda dan lakukan sesuatu yang Anda perlu lakukan.

Menjadi Ayah, Mengubah Pria Menjadi Lebih Beradab

Monday, November 14th, 2005

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa menjadi seorang ayah dapat menurunkan jumlah hormon testosteron yang ada dalam diri pria. Para peneliti di Amerika melakukan studi ini terhadap para pelajar keturunan China yang masih lajang dan yang telah menikah dan memiliki anak.

Proceedings of the Royal Society  menemukan bahwa pria yang telah menjadi seorang ayah memiliki jumlah hormon testosteron yang paling rendah dibanding yang belum memiliki anak dan masih lajang.

Seorang peneliti dari Inggris mengatakan penurunan kadar testosteron ini adalah sesuatu yang alami untuk mengubah pria menjadi lebih beradab dan tidak agresif terutama di dekat anaknya.

Para peneliti dari Charles Drew University of Medicine and Science di Los Angeles, Universitas Harvard, dan Universitas Nevada meminta 126 pria dengan usia berkisar antara 21-38 mengisi kuesioner.

Para pria itu juga diminta memberikan sampel air liur pagi dan sore hari.

Hasilnya, didapatkan 66 pria yang belum menikah memiliki jumlah hormon testosteron lebih banyak dibandingkan dengan 30 pria menikah yang belum memiliki anak.

Namun, 30 pria yang telah menjadi ayah memiliki jumlah hormon testosteron yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pria lajang maupun pria menikah yang belum memiliki anak.

Seperti hewan
Para peneliti yang dipimpimpin oleh Dr Peter Gray dari Charles Drew University mengatakan, peningkatan jumlah hormon testosteron berkaitan dengan usaha untuk mencari pasangan, sedangkan penurunan jumlah hormon ini berkaitan dengan perasaan sebagai seorang ayah.

"Dengan kata lain, penurunan jumlah hormon testosteron ini menunjukkan telah selesainya usaha untuk mencari pasangan dan munculnya perasaan untuk mengurus anak."

Dr. Nick Neave, seorang psikolog dari Universitas Northumbria mengatakan, studi ini menemukan pola yang sama pada manusia dan hewan, berkaitan dengan masalah pengasuhan anak.

Ia mengatakan, penurunan jumlah hormon ini membuat hewan-hewan jantan tidak berkeliaran dan mau ikut mengasuh anak mereka. "Secara alami, hormon testosteron ini tidak akan meningkat ketika mereka memiliki bayi," kata Dr. Neave menambahkan.

"Walaupun untuk waktu yang singkat, perubahan seorang pria menjadi lebih beradab adalah hal yang sangat alamiah."

Dr. Neave menambahkan, "Sangat menarik untuk mempelajari sikap para pria yang telah menjadi ayah tetapi masih berlaku tidak beradab, misalnya dengan memukuli anak mereka."

Sikap mereka ini mungkin berkaitan dengan faktor-faktor sosial, tetapi dapat juga disebabkan karena jumlah hormon testosteron yang tinggi, atau berkaitan dengan sirkulasi hormon di dalam darah."

Ia juga mengungkapkan, jumlah hormon ini dipengaruhi pula oleh usia, dimana pria yang lebih muda memiliki jumlah hormon yang lebih tinggi (wsn - bbc.co.uk)

Idul Fitri, Hari Kemenangan

Saturday, November 5th, 2005

Rasanya baru saja kita berucap,"Marhaban ya Ramadhan." Begitu kita dengan suka cita menyambut bulan Ramadhan, bulan penuh kemuliaan saat ia hadir. Tapi kini bulan kemuliaan ini telah beranjak pergi meninggalkan kesedihan karena perpisahan dengannya. Terutama bagi mereka orang-orang yang beriman dan menghayati kehadiran bulan suci ini dengan berbagai kegiatan ibadah. Sungguh telah pergi bulan yang dijanjikan kepada mereka, orang-orang yang beriman, bulan di mana setiap orang dapat berlomba-lomba mencapai predikat takwa.

Tinggallah kini sebaris doa yang terucap,"Allahumma ballaghna Ramadhaana." Ya Allah! Sampaikan kami ke bulan Ramadhan. Seperti inilah kata-kata yang terucap begitu berpisah dengan Ramadhan, penuh harap akan diberikan kesempatan bertemu dengan bulan surga, bulan Al-Qur’an dan Lailatul qadr dalam tahun berikutnya.

Kerinduan,itulah yang akan terbit di hati orang-orang beriman yang menantikan Ramadhan yang telah berlalu. Teringat akan puasa, tahajjud dan i’tikaf bersamanya. Teringat dengan tilawah Al-Qur’an, zikir dan doa bersamanya. Teringat akan anugerah, barakah, dan kebaikan yang berlimpah padanya. Teringat dengan rahmat, maghfirah, dan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan lalu kita melakukan introspeksi akan segala kelemahan, kekurangan, dan banyaknya kebaikan yang telah terlewatkan. Berapa banyak kebaikan dalam puasa hilang bersama ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan pandangan yang penuh tipuan (kha’inah). Berapa banyak kebaikan shalat malam hilang bersama nyenyaknya tidur, menonton film, drama, sinetron, dan perbuatan tidak baik lainnya. Berapa banyak kebaikan dalam Al-Qur’an telah hilang bersama kemalasan untuk duduk dalam halaqah zikir dan kebaikan-kebaikan lain yang hilang begitu saja.

Lalu kita pun berjanji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa pada Ramadhan yang akan datang akan berbuat lebih baik lagi dan mengganti kebaikan-kebaikan yang telah ditinggalkan begitu saja. Sembari terus berdoa,"Allahumma ballaghna Ramadhaana."

Penuh harap dan penuh rindu begitulah kita terhadap Ramadhan yang telah meninggalkan kita. Betapa tidak, bulan penuh kemuliaan ini adalah bulan dengan pohon takwa. Pohon yang daun-daunnya berguguran sepanjang tahun, di bulan Ramadhan masanya menjadi tumbuh bersemi kembali. Pohon takwa yang diterpa badai maksiat sepanjang tahun bulan ini waktunya tumbuh menjadi pohon yang teduh , memberikan naungan dan berbagai kebaikan, serta memberikan buahnya sepanjang musim dengan seizin Rabb-nya. Dan semuanya itu memungkinkan seorang muslim untuk terus dalam keadaan bertakwa sepanjang tahun, hingga datangnya Ramadhan berikutnya.

Kini perjalanan iman kita telah sampai pada kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Kita merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita, dengan penuh kegembiraan. Dan tentu saja kesukacitaan dan kegembiraan ini hanya akan dengan sempurna dirasakan oleh orang-orang yang telah berhasil melampaui tahap perjuangannya selama bulan Ramadhan dengan amalan-amalan kebaikan siang dan malam. Mereka menahan rasa haus dahaga, lapar dan menjaga syahwatnya serta dengan tetap khusuk pula beribadah di siang hari. Dilanjutkan malamnya untuk lebih bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabb-nya dengan shalat lail, tarawih, tadarus Al-Qur’an serta kebaikan-kebaikan lainnya yang tiada putusnya.

Di Hari Raya Idul Fitri ini biasanya kita saling memaafkan dan bersilaturahmi satu sama lainnya. Pendek kata pada hari ini kita bersukacita dan berbahagia atas kemenangan yang kita raih.

Lebih tepatnya kita tidak bersukacita dan berbahagia karena merasa telah terbebas dengan beban karena terpaksa harus berpuasa sebulan penuh. Lantas kita berpesta pora dan lupa diri setelahnya. Sebab jika demikian cara kita menyikapi Idul Fitri ini, maka itu artinya akan sangat bertolak belakang dengan yang diharapkan dari nilai puasa kita sebulan penuh, untuk memperoleh predikat takwa.

Hal-hal yang bertolak belakang dalam merayakan Idul Fitri yang perlu kita garis bawahi semisal dimulainya babak baru hura-hura dan perbuatan sia-sia lainya justru di hari yang fitrah ini.

Oleh karena itu, dengan kejernihan berpikir kita seandainya kita masih tergolong di antara orang-orang yang menyikapi perayaan Idul Fitri dengan hura-hura atau perbuatan yang berlebih-lebihan dan bahkan sampai melanggar batas-batas agama, maka di tahun ini saatnya kita berubah menjadi muslim yang benar-benar kembali fitrah setelah membasuh dosa-dosa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Mari kita rayakan hari kemenangan kita dengan bertafakkur dan bermuhasabah (merenung dan menilai kembali) atas apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Kita mulai kembali lembaran hidup kita dengan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan kita. Kita luruskan kembali niat dan tujuan hidup kita di tengah kerasnya perjuangan yang tengah kita jalani.

Mari kita bayangkan kedua orangtua kita, anak-anak kita dan istri kita atau saudara-saudara kita di hari yang fitrah ini mereka mungkin menitikkan air matanya tanpa kehadiran kita di kampung halaman. Apa mau dikata, kita terpaksa melawan kerasnya kehidupan berjuang menegakkan kehidupan terpisah dari mereka demi hari esok yang lebih baik dan lebih mulia. Maka tiada lain buat kita kecuali mewujudkan apa yang menjadi harapan. Dan semuanya akan menjadi nyata adanya jika kita memulai hidup baru kita, pada hari yang fitrah ini dengan menjadi muslim dan muslimah yang selalu berjalan pada koridor agama Islam yang mulia ini.

Di hari yang fitrah ini kita bertekad memperbaiki kadar keimanan kita pada hari-hari selama sebelas bulan berikutnya. Anggaplah selama bulan Ramadhan yang lalu kita telah berniaga dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala selama sebulan penuh dan hasil perniagaan ini menjadi bekal buat kita untuk sebelas bulan selanjutnya. Tentu saja dengan selalu berusaha melakukan yang terbaik semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab bukankah kita diciptakan hanya untuk mengabdi kepada-Nya?

Alangkah indahnya hari kemenangan kita, Idul Fitri 1426 kali ini, batapa damai rasanya. Meskipun kita jauh dari sanak saudara ribuan mil jaraknya tapi hati kita begitu tentram sebab kita kembali fitrah.

Selamat Idul Fitri 1426 H. Mohon maaf lahir dan bathin.***

Mudik

Saturday, November 5th, 2005

Mudik hal yang lazim kita dengar pada saat bulan puasa, terutama dihari2 terakhir. mudik sudah menjadi rutinitas masyarakat Indonesia menjelang lebaran di latarbelakangi oleh keinginan yang kuat untuk dapat merayakan hari raya Idul fitri di kampung halaman bersama sanak family dan kerabat, sekaligus menjadi semacam acara reuni dengan teman2 lama.

Menurut Komaruddin, budaya mudik mulai muncul di Indonesia pada tahun 1970-an ketika urbanisasi ke Jakarta berlangsung sangat cepat akibat ketimpangan ekonomi. Sehingga, saat Lebaran masyarakat urban itu pulang kampung, yang kemudian dikenal dengan istilah mudik.
"Seandainya terjadi pemerataan ekonomi antara pusat dan daerah, budaya mudik tidak akan terjadi. Kalau pusat-pusat ekonomi menyebar ke berbagai kota, tidak hanya terpusat di Jakarta, fenomena mudik dengan sendirinya akan surut," katanya.

Selain itu, Salahuddin menambahkan, selain untuk silaturahmi para pemudik ingin menunjukkan sukses mereka di rantau. Akibatnya, sering kali mereka memaksakan diri walaupun harus menguras habis tabungannya. "Fenomena ini menunjukkan bangsa ini tidak sadar dengan kemampuan dirinya. Mudik itu kan beban keuangannya cukup besar," katanya.

Psikolog UGM Djamaludin Ancok mengatakan, tradisi mudik perlu dipertahankan karena merupakan salah satu modal sosial bangsa Indonesia. "Tradisi ini kan bisa menjadi perekat sosial," katanya.

Dari segi psikologi, kata Ancok, mudik sangat dibutuhkan karena masyarakat kota jenuh dengan kehidupan yang keras dan sumpek. "Tidak ada kekerabatan yang kuat di kota sehingga walaupun memerlukan proses yang sangat melelahkan, masyarakat tetap antusias untuk mudik. Dengan mudik, rasa kerinduan masyarakat untuk saling berbagi dan bersilaturahmi dapat dipenuhi," katanya.