Archive for August, 2006

10 Hal Penghancur Karier

Monday, August 14th, 2006

Gagal1 Mungkin Anda perlu waktu tiga bulan, bahkan setahun lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok.

Celakanya, hanya dalam waktu beberapa hari atau minggu kita bisa kehilangan pekerjaan tadi. Lho, kok bisa?

Tentu saja bisa dan itu karena kesalahan yang Anda lakukan. Tanpa disadari, Anda menghancurkan karier sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mematikan karier dalam sekejap.

1. KETIDAKMAMPUAN

Ketidakmampuan bisa berbuntut panjang. Penelitian menunjukkan, perusahaan selalu berpendapat, lebih baik punya pegawai yang secara konsisten mau belajar menambah keterampilannya daripada yang hanya berhenti pada satu kemampuan. Soalnya, pegawai tipe ini tidak akan berkembang dan cenderung tak mau bekerja sama.

2. SULIT KERJA TIM

Tidak ada seorang pun yang merasa senang hidup di samping seorang primadona. Perusahaan pasti akan kesulitan menghadapi karyawannya yang tak mau atau tak mampu bekerja dalam tim. Jadi, pastikan Anda bisa menjadi anggota tim kerja yang baik dan bisa bertindak sebagai makhluk sosial yang baik pula.

3. TAK TEPAT WAKTU

Jika pekerjaan harus selesai hari Rabu, misalnya, camkan di benak bahwa hari Kamis tidak akan pernah ada. Suatu organisasi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab, dipercaya. Tak menepati tenggat waktu bukan hanya mencerminkan seseorang yang tidak profesional, tapi juga berarti merusak bahkan menghancurkan jadwal kerja orang lain. Ujung-ujungnya, bos Anda yang bakal jadi sorotan. Jika sudah meiliki komitmen, tepati janji, apa pun yang terjadi. Hal ini sangat penting!

4. MEMANFAATKAN FASILITAS PERUSAHAAN

Fasilitas perusahaan seperti e-mail dan telepon yang ada adalah untuk keperluan bisnis perusahaan. Gunakan telepon untuk keperluan pribadi sesingkat mungkin dan jangan menerima pangggilan telepon yang bersifat pribadi dengan waktu bicara yang lama.

Juga jangan pernah menulis e-mail yang tidak ingin dibaca oleh bos karena banyak sistem yang dapat menyimpan kiriman-kiriman e-mail yang dihapus ke dalam satu berkas. Ingat pada orang-orang yang berjiwa kerdil yang mencari muka pada atasan. Lagipula, memanfaatkan e-mail milik perusahaan untuk keperluan pribadi, amat tidak diperbolehkan.

5. SOK EKSKLUSIF

Jangan mengisolasi diri atau bertingkah sok eksklusif. Kembangkan diri Anda dan jalin hubungan dengan rekan sekerja. Orang yang mempunyai jaringan yang efektif, akan memiliki jalur dan sumber informasi yang akurat sehingga dapat lebih mudah mencapai dan mengerti plotik organisasi di perusahaan tersebut.

Penelitian membuktikan, para pegawai yang mempunyai jaringan yang luas, umumnya cenderung menjadi seorang yang dapat bekerja dalam tim, banyak memberi andil pada sukses tim kerja, memiliki nilai lebih, sehingga bisa lebih cepat mendapat promosi serta kompensasi yang tinggi.

6. MENJALIN ASMARA DI KANTOR

Walaupun Anda dan si dia berada di ruangan atau divisi terpisah, menjalin hubungan asmara di kantor bukan merupakan pilihan yang baik. Jika kebetulan terlibat percintaan dengan bos, begitu ada kesempatan promosi, naik jabatan, pasti akan mejadi gunjingan. Minimal, rekan sekerja mencibir karena anggapan Anda naik posisi gara-gara dekat dengan atasan.

Yang juga tak mengeenakkan, hubungan asmara dengan atasan atau rekan sekerja yang putus di jalan, bisa membuat hubungan kerja jadi terganggu. Belum lagi harus menghadapi omongan rekan-rekan sejawat.

7. TAKUT AMBIL RISIKO

Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, maka orang lain pun tidak akan percaya pada Anda. Bersikaplah untuk dapat mengerjakan sesuatu dan mengambil risiko. Katakan dengan jujur, "saya belum pernah mengerjakan hal tersebut tapi saya akan berusaha mempelajari bagaimana caranya."

Jangan takut gagal atau khawatir membuat kesalahan. Jika keadaan menjadi kacau, segera ubah dan minta bantuan rekan atau atasan yang lebih jago. Pokoknya, coba untuk belajar pada semua kesempatan yang ada di setiap situasi. Ingat, lembur karena risiko kerja dapat membuat Anda menjadi lebih tertantang dan lebih cepat maju.

8. TANPA TUJUAN

Kegagalan bukanlah sesuatu keburukan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Yang buruk adaklah jika Anda tak punya tujuan untuk mencapai sesuatu. Jadi, susun rencana kegiatan sehari-hari untuk mencapai tujuan tadi. Percaya atau tidak, 80 persen dari keberhasilan yang diraih seseorang, 20 persennya datang dari aktivitas yang dilakukannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Atur mana yang menjadi prioritas dan fokuskan pada pekerjaan tersebut.

9. TERKESAN CEROBOH

Jujur atau tidak, penampilan selalu diperhitungkan. Orang selalu menilai semua penampilan serta tingkah laku Anda. Dengan kata lain, usahakan untuk tidak berpakaian seenaknya saat pergi ke kantor atau berpakaian yang tidak selayaknya dikenakan ke kantor.

Berlakulah jujur, berbicara dengan bahasa yang baik, sopan, tidak menggunakan bahasa dialek atau daerah. Bersikaplah sebagai seorang yang kompeten, mempunyai komitmen dan perilaku yang baik.

10. TAK MENJAGA MULUT

Ruangan kecil, gang, tangga berjalan, bahkan kamar mandi kantor, semua itu bukan milik pribadi Anda. Berhati-hatilah jika sedang berbicara di tempat-tempat umum tadi dan perhatikan pada siapa Anda berbicara.

Jangan bercanda mengenai kepercayaan, suku, rahasia perusahaan, gosip teman sekantor, dan juga pribadi-pribadi para bos. Semua pembicaraan mengenai hal itu bukanlah sesuatu yang bebas, tidak gratis, terutama sangat berharga dan amat berarti bagi pekerjaan Anda! *** (www.kompas.com)

Rancangan Keuangan untuk Karyawan

Monday, August 14th, 2006

824724001 Apakah Anda seorang karyawan/karyawati? Jika ya, berarti Anda memiliki gaji tetap. Mungkin di luar gaji, Anda juga memiliki pendapatan lain, seperti komisi ataupun bonus.

Bagaimana perasaan Anda dengan gaji yang Anda peroleh?

Kalau Anda karyawan baru, mungkin Anda akan senang-senang saja karena sebelumnya memang tidak memiliki penghasilan. Tetapi, jika Anda tergolong karyawan yang sudah lama mungkin selalu merasa kurang dengan gaji yang diperoleh. Bila Anda tidak puas, apakah masalahnya selesai? Jawabannya adalah tidak.

Puas atau tidak puas sebenarnya bukan bergantung dari berapa besarnya gaji yang Anda peroleh, melainkan bagaimana Anda mengelola gaji tersebut. Termasuk, bagaimana mengelola pengeluaran Anda yang sumber dananya adalah dari gaji.

Selain rasa tidak puas, lebih parah lagi tidak sedikit kalangan yang malah tidak mandiri. Artinya, ada yang semakin tinggi ketergantungannya pada keluarga kendati telah memiliki penghasilan. Kenapa begitu? Karena ketika telah bekerja, kebutuhan dan keinginanan malah semakin berlipat ganda.

Jelas, perilaku semacam itu tidak wajar dan akan memberikan implikasi negatif dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ada baiknya Anda mulai berpikir membuat rancangan keuangan. Dan keliru besar bila Anda menganggap rancangan keuangan itu hanya untuk kalangan mapan. Rancangan keuangan mestinya telah dimiliki setiap orang pada saat mulai menjadi karyawan dan mulai berpenghasilan.

Rancangan keuangan hakikatnya perencanaan terhadap apa yang akan Anda lakukan untuk mencapai tujuan keuangan Anda dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Itu berarti sejak pertama kali Anda menerima gaji, Anda harus menetapkan apa tujuan keuangan Anda, katakanlah dalam 5 tahun ke depan untuk jangka pendek, 15 tahun ke depan untuk jangka menengah, dan tujuan keuangan setelah Anda pensiun. Ini tentu dengan asumsi penghasilan Anda diperoleh dengan menjadi karyawan semata.

Sebelum membuat rancangan keuangan untuk masing-masing periode, Anda mesti menentukan prioritas tujuan keuangan Anda. Prioritas, adalah pilihan. Tidak bisa semua kemauan dijadikan prioritas.

Prioritas juga berkaitan dengan karakteristik Anda, apakah tergolong risk taker atau penghindar risiko. Artinya, jika Anda tergolong takut dengan risiko, maka prioritas Anda mestinya tujuan keuangan bersifat proteksi atau melindungi dalam jangka panjang. Untuk itu, program asuransi bisa menjadi pilihan. Tetapi, jika Anda termasuk berani mengambil risiko, maka pilihan investasi ataupun malah tujuan membeli barang konsumsi bisa juga menjadi target.

Jangka pendek

Oke, umpamakan Anda tergolong berani mengambil risiko dan memiliki tujuan keuangan lebih bersifat konsumtif, misalnya memiliki kendaraan dalam tiga tahun ke depan. Kendaraan yang Anda inginkan itu tentu memiliki harga tertentu, katakanlah Rp XXX juta. Lalu Anda mulai menghitung berdasarkan gaji yang Anda peroleh.

Jika 30 persen gaji ditabung dan dengan asumsi pendapatan Anda tetap saja, boleh jadi dana itu terkumpul tetapi baru tiga tahun kemudian. Lalu bagaimana selama masa tiga tahun itu? Tentu saja Anda belum memiliki kendaraan pribadi.

Bila Anda tetap ingin memiliki kendaraan, sebenarnya Anda bisa membelinya dengan cara kredit. Sepanjang, Anda tetap mampu menyisihkan 30 persen gaji Anda sebagai angsuran kredit, Anda boleh saja mempertimbangkan pembelian melalui kredit bank atau multifinance. Tetapi, Anda memiliki risiko 30 persen penghasilan Anda setiap bulan mesti disisihkan untuk membayar angsuran.

Dan Anda berkemungkinan tidak bisa membayar jika Anda tidak disiplin dan atau terjadi sesuatu pada pekerjaan Anda. Karena itu, untuk mengeleminasi risiko tersebut, selain kendaraan itu mutlak diasuransikan, Anda sendiri pun sebaiknya mengikuti program asuransi.

Jangka menengah-panjang

Bagaimana dengan tujuan keuangan jangka menengah dan panjang? Di sini Anda juga mesti menetapkan prioritas apa yang Anda inginkan.

Jika dalam jangka pendek tujuan Anda memiliki kendaraan, maka sebaiknya tujuan keuangan jangka menengah-panjang tidak lagi bersifat konsumtif, melainkan lebih bersifat investasi dan proteksi. Artinya, Anda mesti menyiapkan uang cukup untuk digunakan bagi tujuan keuangan yang lain. Jadi, investasi dan proteksi di sini adalah "sarana" mencapai tujuan berikut.

Konkretnya, mungkin Anda ingin memiliki rumah, tabungan cukup, dan sebagainya yang cara mendapatkannya mestinya melalui hasil investasi. Dengan kata lain, Anda harus menyisihkan sebagian pendapatan untuk diinvestasikan dalam berbagai produk investasi dan proteksi, dimana dalam kurun waktu 10 - 15 tahun lagi hasil investasi itu mencukupi jika hendak Anda pergunakan untuk tujuan keuangan lain.

Semua itu baru akan tercapai jika Anda mampu mengelola penghasilan secara disiplin, khususnya dalam pengeluaran. Jika Anda mematok 30 persen penghasilan untuk membayar angsuran kredit kendaraan, lalu 15 persen untuk berinvestasi, maka sisanya yang 65 persen harus cukup untuk membiayai hidup sehari-hari. Konkretnya, Anda mesti beranggapan penghasilan Anda sebenarnya hanya 65 persen dari gaji. Itu yang harus Anda kelola dengan baik. (Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)

Cara Mendapatkan Lowongan Yang Tidak Diiklankan

Monday, August 14th, 2006

Ar6327001 Sekitar 70-80 % lowongan untuk posisi terbaik di perusahaan biasanya tidak diiklankan. Seandainya lowongan tersebut diiklankan maka bisa jadi surat lamaran Anda akan tenggelam bersama ribuan surat dari pelamar lain.

Lalu bagaimana cara kita mendapatkan lowongan yang tidak diiklankan tersebut ? cara terbaik adalah dengan memperluas jaringan. Berikut beberapa tips bagi Anda untuk memperluas jangkauan jaringan dan tentu saja mendapatkan info lowongan yang sudah lama Anda incar.

1. Menghadiri acara perusahaan

Banyak perusahaan atau komunitas profesional kerap membuat acara pertemuan, entah seminar atau sekedar ulang tahun sebuah perusahaan. Jangan malas untuk hadir, karena di sanalah Anda bisa bertemu profesional dari berbagai perusahaan, untuk kemudian Anda bisa berkenalan dan mencari info tersembunyi tentang kebutuhan karyawan. Pilihlah acara yang berkaitan dengan pekerjaan atau keahlian khusus yang Anda miliki. Jika Anda mengincar jabatan public relation, jangan hadir di acara pertemuan para ahli geologi, misalnya.

2. Bergabung dengan klub profesi

Saat ini banyak komunitas profesi yang dibentuk, baik itu berupa milis (mailing list) atau klub yang anggotanya merupakan orang-orang dengan satu profesi. Komunitas ini biasanya memiliki agenda pertemuan rutin untuk berbagi pengalaman, bertukar ide atau informasi seputar profesi yang digeluti.  Carilah klub profesi yang sesuai dengan pekerjaan Anda, bisa lewat internet, majalah, atau bertanya pada teman.

3. Latih cara bicara

Untuk mengiklankan diri sendiri dalam berbagai pertemuan profesi, Anda perlu merangkai kata-kata dan melatihnya terus menerus. Isi ’iklannya’ bisa berupa siapa Anda, pengalaman kerja dan keahlian khusus yang Anda miliki.

Tidak perlu panjang lebar, cukup 20-30 detik waktu berbicara. Kalimat yang tersusun baik dan ’to the point’ membuat lawan bicara menangkap maksud yang ingin Anda sampaikan. Selain itu, gaya bicara yang efektif bisa menimbulkan kesan yang baik bagi Anda. (www.kompas.com)