Archive for January, 2007

Sukses dan Perubahan

Sunday, January 28th, 2007

KESUKSESAN HARI INI TIDAK BERARTI
BESOK KITA AKAN MERAIH SUKSES LAGI,
TANPA KESIAPAN DAN BERJUANG LEBIH KERAS,
MAKA KESUKSESAN SULIT KITA PERTAHANKAN!!

Kehidupan terus menerus berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Apa pun yang kita tekuni, baik itu di dunia bisnis, politik, jasa, atlit ataupun profesional dan bidang-bidang lainnya. Semua kondisi itu selalu dalam keadaan berubah terus menerus, demikian pula dengan kondisi sukses atau gagal yang kita alami hari ini, semuanya tidak tetap selalu berubah dari saat ke saat.

Kita ambil contoh: Jika hari ini kita mengalami kegagalan, bukan berarti besok tetap gagal. Asal tahu di mana letak kelemahan-kelemahan yang harus diperbaiki, maka usaha kita selanjutnya memungkinkan untuk merubah kegagalan menjadi kesuksesan. Namun, kalau kita tidak berusaha untuk bangkit dari kegagalan, maka kondisi gagal akan semakin membawa kita pada keterpurukan, frustasi dan depresi. Yang pada akhirnya, hanya mampu menghibur diri sendiri dengan apatis dan berkata; “Ya…. kegagalanku ini memang sudah nasibku.”

Pembaca yang luar biasa,
Lalu bagaimana dengan kondisi sukses yang kita miliki saat ini? Apakah kondisi sukses ini juga berubah? Jawaban saya jelas: Pasti berubah!

jin tian de cheng gong deng yu ming tian hai zai cheng gong

Kesuksesan yang telah kita raih hari ini, tidak berarti besok kita akan tetap sukses!

Karena dalam kenyataannya, para pesaing kita, baik yang telah kita kenal, kita ketahui atau yang baru muncul dan tidak kita ketahui, mereka semua melakukan aktivitasnya dengan segenap kemampuan dan berbagai cara untuk mengembangkan usaha mereka secara maksimal. Kalau kesuksesan yang yang telah kita raih membuat kita manja, lengah dan angkuh, maka bisa dipastikan secara berangsur angsur kita akan mengalami kemunduran. Kenapa bisa mundur? Ya karena kondisi itu terus berubah, mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit dari pada menciptakannya, begitu kita manja, semangat menjadi kendor.

Supaya kesuksesan yang telah kita raih tetap berada di genggaman kita, kita harus melakukan persiapan yang dibutuhkan dan sikap mental yang mau tetap belajar dalam memoles diri. Kita juga harus siap berjuang dengan lebih keras lagi. Hanya dengan cara seperti itu minimal kita tetap eksis dengan kesuksesan yang telah kita dapatkan dan maksimal kita akan meraih sukses yang lebih luar biasa!

Tentu tidak menjadi berlebihan untuk selalu mengingatkan pada diri sendiri, bahwa:
KESUKSESAN HARI INI TIDAK BERARTI
BESOK KITA AKAN MERAIH SUKSES LAGI,
TANPA KESIAPAN DAN BERJUANG LEBIH KERAS,
MAKA KESUKSESAN SULIT KITA PERTAHANKAN!!

Selamat berjuang! Sukses untuk kita semua!!! (Andrie Wongso)

Kasih Ibunda

Sunday, January 28th, 2007

Suatu pagi di sebuah perkampungan miskin. Tampak seorang ibu dengan penuh semangat sedang membikin adonan untuk membuat tempe, pekerjaan membuat dan menjual tempe telah digeluti selama bertahun-tahun sepeninggal suaminya.

Saat membuat adonan, sesekali pikirannya menerawang pada sepucuk surat yang baru diterima dari putranya yang sedang menuntut ilmu di rantau orang. Dalam surat itu tertulis, “Bunda tercinta, dengan berat hati, ananda mohon maaf harus mohon dikirim uang kuliah agar dapat mengikuti ujian akhir. Ananda mengerti bahwa bunda telah berkorban begitu banyak untuk saya. Ananda berharap secepatnya menyelesaikan tugas belajar agar bisa menggantikan bunda memikul tanggung jawab keluarga dan membahagiakan bunda. Teriring salam sayang dari anakmu yang jauh.”

Dua hari lagi adalah hari pasaran, biasanya tempe hasil buatan si ibu dibawa ke pasar untuk dijual. Kali ini, tempe yang dibuat dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya, dengan harapan mendapatkan lebih banyak uang sehingga bisa mengirimkan ke anaknya.

Sehari menjelang hari pasar, hati dan pikiran si ibu panik karena tempe buatannya tidak jadi, entah karena konsentrasi yang tidak penuh atau porsi tempe yang dibuat melebihi biasanya. Kemudian si ibu pun sibuk berdoa dgn khusuk di sela-sela waktu yang tersisa menjelang keberangkatannya ke pasar, memohon kepada Tuhan diberi kemujizatan agar tempenya siap dijual dalam keadaan jadi. Tetapi sampai tibanya dia di pasar, tempenya tetap belum jadi.

Sepanjang hari itu dagangannya tidak laku terjual. Si ibu tertunduk sedih, matanya berkaca-kaca membayangkan nasib anaknya yang bakal tidak bisa mengikuti ujian. Saat hari pasar hampir usai para pedagang lain pun mulai meninggalkan pasar, tiba-tiba datang seorang ibu berjalan dengan tergesa-gesa, “Bu, saya nyari tempe yang belum jadi, dari tadi nggak ada, ibu tahu saya harus cari ke mana?”

“Untuk apa tempe belum jadi kok dicari?” tanya si penjual heran.

“Saya mau membeli untuk dikirim ke anak saya di luar kota, dia sedang ngidam tempe khas kota ini,” kata ibu calon pembeli.

Ibu penjual tempe ternganga mendengar kata-kata yang baru didengarnya, seakan tak percaya pada nasib baiknya, seolah tangan Tuhan memberi kemurahan kepadanya. Akhirnya tempe dagangannya diborong habis tanpa sisa. Dia begitu senang, bersyukur dan menambah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan diri umatnya selama manusia itu sendiri tidak putus asa dan tetap berjuang.

Kekuatan berusaha dan berdoa.

Pepatah kuno menyatakan, ora et labo`ra, berusaha dan berdoa. Memang, doa dan usaha harus seiring dan sejalan dalam perjalanan hidup setiap manusia. Doa dibutuhkan untuk mengingatkan kita agar senantiasa menapak langkah di jalan benar yang diridhoi oleh yang Maha Kuasa dan tetap mampu bersikap sabar, gigih, dan ulet saat menghadapi segala macam halangan, rintangan dan cobaan, sekaligus mampu memelihara antusiasme dalam memperjuangkan apa yang telah kita tetapkan demi mewujudkan kesuksesan.

Di kesempatan yang berbahagia ini pula, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007. Mari dengan segenap kekayaan mental yang optimis dan aktif, kita singsingkan lengan baju siap bekerja keras untuk mengisi tahun baru ini dengan harapan baru! Semangat baru! Agar tercapai sukses yang lebih gemilang! Sukses lebih luar biasa!!!

Di kesempatan yang berbahagia ini pula, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007. Mari dengan segenap kekayaan mental yang optimis dan aktif, kita singsingkan lengan baju siap bekerja keras untuk mengisi tahun baru ini dengan harapan baru! Semangat baru! Agar tercapai sukses yang lebih gemilang! Sukses lebih luar biasa!!!(Andrie Wongso)

Tanda-tanda Su’ul Khatimah

Friday, January 26th, 2007

Mati adalah satu kepastian, cepat atau lambat. Maka ketika
‘panggilan akhir’ kehidupan dunia ini sudah tiba, tidak ada rumus yang
membedakan; tua-muda, dewasa-anak-anak, kaya-miskin, rakyat jelata atau
bangsawan, tinggal di rumah gedongan maupun di kolong jembatan, semua kebagian
jatah yang sama: mati. Panggilan itu sungguh-sungguh tepat waktu, tidak bisa
dimajukan (walau melalui berbagai cara) ataupun di tunda (juga dengan berbagai
usaha). Innalillah wa inna ilaihi
raajiuun
.

Yang penting bagi kita sebagai muslim, bagimana agar tugas
akhir dalam kehidupan sebagai abdullah
(hamba Allah) maupun sebagai khalifah
(wakil Allah) di muka bumi ini, menyandang gelar terhormat, dengan jaminan dan
keistimewaan yang luar biasa yakni, khusnul
khatimah
.

Dalam tulisan al-Quran kali ini, akan mengungkapkan
ciri-ciri atau sebab-sebab amalan yang mengantarkan seseorang pada akhir
kehidupan yang buruk atau su’ul khatimah.
Semoga kita dapat menghindarinya dan masuk kedalam kelompok yang berpulang (meninggal
dunia) dengan cara khusnul khatimah. Amin ya rabbal a’lamin

Sebab-sebab atau ciri-ciri su’ul khatimah tersebut adalah sebagai berikut:

Rusak Aqidahnya

Ini adalah peringantan pertama. Bahwa sekalipun seorang
senantiasa melakukan amal shaleh dan zuhud (tidak mengejar kemewahan dunia),
tetapi jika aqidahnya rusak sedangkan dia tetap menyakini bahwa aqidahnya masih
betul (lurus) dan tidak pernah merasa sesat, maka dia melihat kesesatan
aqidahnya itu, ketika datang sakaratul maut (hampir mati) nanti.

Pada saat itu yang bersangkutan baru terbelalak kaget,
karena apa yang diyakininya ternyata menyimpang dari jalan Islam yang benar.
Kematian dalam kondisi seperti ini menjadi su’ul
khatimah
, lantaran yang bersangkutan tidak sempat bertaubat dari kesesatan
dan kali itu pintu taubat sudah di tutup. Firman Allah dalam ayat 47 surat az-zumar yang
menjelaskan: “..dan jelaskan bagi mereka
azab dari Allah yang belum pernah mereka pikirkan.”

Dalam firman-Nya yang lain dalam ayat 103 hingga 104 surat al-kahfi Allah
menerangkan: katakanlah :”apakah akan
kami beritahu kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu
orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini. Sedang
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Setiap aqidah yang melenceng dari landasan Islam yang benar
(syari’at Islam), maka segala amal
shaleh dan kezuhudannya, tidak dapat menjadi penolong baginya kelak. Aqidah
yang shahih (yang lurus) adalah yang
telah tertuang dalam al-Quran dan Hadist.

 
Melanggengkan
perbuatan maksiat

Maksiat adalah perbuatan yang tercela. Namun demikian,
hampir tidak ada manusia yang dapat menghindar dari perilaku maksiat. Yang
bijak jika tenggelam dalam maksiat, segera bangkit dan bertaubat. Mengapa?
Tidak lain kerena setiap perkara yang menjadi kebiasaan pada diri seseorang,
maka hal itu akan kembali diingati ataupun terbayang di saat kematian tiba.

Sekiranya dia senantiasa beramal dengan amalan shaleh, maka
saat datang kematian, dia akan mengenang/ingat, segala kebaikan yang pernah
dilakukan. Manakala dia senantiasa bergelimang dengan dosa, maka ketika
nafasnya akan dicabut oleh malaikat, maka dia akan kembali mengingat/lihat
segala maksiat yang dilakukannya.

Inilah yang menjadi beban dan menjadi dinding penghalang
antara dia dan Allah. Dan hal itu yang menyebabkan sulitnya saat terakhir
sebelum menghembuskan nafas terakhir. Rasulullah SAW bersabda: “celaka orang yang banyak berzikir dengan
lidahnya, tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya.”
(riwayat
Adailani).

Orang yang semula ahli maksiat, tapi dengan segera taubat,
maka dia tidak akan mengalami kegetiran sakaratul maut. Bahkan dijanjikan
segala kejahatannta akan digantikan dengan kebaikan sebagaimana firman Allah: “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman
dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
(al-Furqan: 70)

Lain halnya dengan mreka yang terus melakukan maksiat
sehingga dosanya bertumpuk-tumpuk, sehingga melebihi jumlah kebaikan dan
ketaatan yang telah dilaksanakan, dan bahkan dia melakukan kemaksiatan dengan
terang-terangan, maka dia akan menghadapi kegetiran ketika sakaratul maut
menjelang.

Kita memohon kepada Allah agar terhindar dari perilaku yang
demikian itu, dan diringankan hati untuk lekas bergegas ke jalan yang lurus
(taubat).

 
Berpaling dari Islam

Akhir hayat adalah ibarat arena lomba yang masing-masing
tidak tahu garis finisnya. Bila ingin mendapatkan hadiah, setiap peserta wajib
menuntaskan lombanya hingga garis finis. Ketika didapati peserta lomba yang
sedari awal tercatat sebagai peserta pertandingan, akan tetapi dia tidak
menuntaskannya (ber-istiqamah) hingga
di garis finis, maka dia tidak berhak mendapatkan hadiah. Demikianpun, meski
seorang di bagian awalnya memegang teguh agama Islam namun pada perjalanan
berikutnya menjadi murtat (keluar)
maka ia akan mendapati akhir hayat sebagai suul
khatimah
(jahat/buruk) di akhir hidupnya.

Sebagaimana yang terjadi pada Iblis, dimana sebelumnya dia
adalah merupakan pemimpin para malaikat dan guru mereka dalam ketaatan kepada
Allah, akan tetapi karena iblis melakukan pembangkangan, maka dia diganjar
sebagai makhluk terkutuk dan sesat.

Begitu pula yang dialami oleh Bal’am ibnu Ba’ura yang mana
merupakan seorang ulama yang hebat pada masanya, tetapi akhirnya menjadi hina
karena nenuruti hawa nafsunya. Begitu pula sorang abid yang bernama Barsisa
yang tenggelam mengikuti jejak langkah syaitan. Kisah Barsisa ini dapat kita
baca dalam tafsir surah al-Hasyr ayat 16 dan 17, contoh bagi orang yang telah
diperdaya oleh syaitan; “(bujukan
orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika berkata kepada
manusia: “kafirlah kamu!”, maka tatkala manusia itu telah kafir maka dia
berkata; “sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku
takut kepada Allah tuhan semesta alam”. Maka adalah kesudahan keduanya, maka
sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam nereka, mereka kekal di dalamnya.
Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.”

Lemah Iman

Terakhir, lemahnya iman menjadi indikasi seseorang akan
masuk kedalam kelompok su’ul khatimah.
Ini terjadi karena seseorang yang memiliki keimanan yang lemah, maka lemahlah
kecintaanya kepada Allah, sebaliknya: kuat dan bertambahlah kecintaan kepada
dunia.

Suasana hati yang seperti ini (akibat lemahnya iman), akan
menyebabkan dia tidak merasa bersalah ketika melakukan tindakan maksiat, dan
tidak merasa bahwa dia akan mempertanggungjawabkan apa yang sedang/telah
dilakukannya kepada Allah. Dia bahkan melakukannya dengan bebas tanpa rasa
takut dan khawatir pada aturan agama.

Sungguh berbahaya suasana jiwa yang seperti ini, sebab bila
tiba saat kematian, akan semakin bertambah-tambah kecintaan kepada dunia,
sesuatu yang pasti akan ditinggalkannya. Dia rasa begitu sayu dan payah untuk
meninggal dunia yang penuh penipuan ini, maka ketika nafasnya berpisah dari
jasad dalam suasana seperti ini, maka dia termasuk golongan mereka yang jahat
akhir hidupnya.

Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa dan kesalahan kami,
dan jauhkanlah kami dari kelompok orang-orang yang tersebut diatas. Jadikanlah
akhir hayat kami sebaik-baik pengakhiran, khusnul
khatimah
.

Tersentuh Pesan SMS, Ponsel Curian Dikembalikan

Monday, January 22nd, 2007

Beijing, Umumnya jarang sekali ada pencopet yang mau mengembalikan barang jambretannya ke korban, terlebih jika barang tersebut berharga. Lain halnya dengan kasus pencopetan di Cina yang satu ini.

Seorang pencopet mengembalikan ponsel dan ribuan yuan uang yang ia curi dari seorang wanita. Pasalnya, sang korban mengiriminya 21 pesan singkat (SMS) yang rupanya isinya menyentuh perasaan maling itu.

Pan Aiying, korban yang berprofesi sebagai guru di timur propinsi Shandong ini, saat itu membawa tas berisi ponsel, kartu ATM dan uang sebesar 4.900 yuan (US$ 630). Sialnya dalam perjalanan pulang dengan mengendarai sepeda, tasnya diserobot oleh seorang lelaki yang mengendarai sepeda motor.

Awalnya Pan berencana melaporkan kasus ini ke polisi, namun akhirnya ia memutuskan untuk melakukan pendekatan lebih dulu pada pencopetnya agar mau mengembalikan tas itu.

Pan kemudian menghubungi nomor ponselnya melalui ponsel koleganya. Karena tidak tersambung, ia lalu mengirimkan sebuah pesan singkat yang berbunyi: "Saya Pan Aiying, guru dari Wutou Middle Scholl. Anda pasti sedang dalam keadaan yang sulit. Kalau benar, saya tidak menyalahkan Anda". Demikian isi SMS pertama yang notabene tidak mendapat balasan.

"Simpanlah uang itu jika Anda membutuhkannya, tapi saya mohon kembalikan benda lainnya. Anda masih muda. Berbuat salah itu manusiawi. Tetapi mengoreksi kesalahan Anda lebih penting dari yang lain," tulis Pan lagi melalui SMS. Demikian diberitakan agen berita Xinhua, yang dikutip detikINET dari Reuters, Selasa (23/1/2007).

Akhirnya Pan menyerah dan berhenti berharap barang-barangnya bakal dikembalikannya, setelah mengirimkan 21 pesan singkat tanpa balasan.

Rupanya sang pencopet tersentuh dengan isi pesan SMS itu. Pada suatu hari, Pan tiba-tiba menerima bungkusan paket yang diletakkan di halaman rumahnya. Paket itu berisi tasnya yang dicuri lengkap dengan isinya tanpa kurang suatu apapun.

Dalam paket itu juga terdapat surat yang berbunyi: "Dear Pan, saya minta maaf berbuat kesalahan. Tolong maafkan saya. Anda sangat toleran sekalipun saya curi barang Anda. Saya akan mengoreksi kesalahan saya dan menjadi orang yang benar." (dwn/dwn)