Mati adalah satu kepastian, cepat atau lambat. Maka ketika
‘panggilan akhir’ kehidupan dunia ini sudah tiba, tidak ada rumus yang
membedakan; tua-muda, dewasa-anak-anak, kaya-miskin, rakyat jelata atau
bangsawan, tinggal di rumah gedongan maupun di kolong jembatan, semua kebagian
jatah yang sama: mati. Panggilan itu sungguh-sungguh tepat waktu, tidak bisa
dimajukan (walau melalui berbagai cara) ataupun di tunda (juga dengan berbagai
usaha). Innalillah wa inna ilaihi
raajiuun.
Yang penting bagi kita sebagai muslim, bagimana agar tugas
akhir dalam kehidupan sebagai abdullah
(hamba Allah) maupun sebagai khalifah
(wakil Allah) di muka bumi ini, menyandang gelar terhormat, dengan jaminan dan
keistimewaan yang luar biasa yakni, khusnul
khatimah.
Dalam tulisan al-Quran kali ini, akan mengungkapkan
ciri-ciri atau sebab-sebab amalan yang mengantarkan seseorang pada akhir
kehidupan yang buruk atau su’ul khatimah.
Semoga kita dapat menghindarinya dan masuk kedalam kelompok yang berpulang (meninggal
dunia) dengan cara khusnul khatimah. Amin ya rabbal a’lamin
Sebab-sebab atau ciri-ciri su’ul khatimah tersebut adalah sebagai berikut:
Rusak Aqidahnya
Ini adalah peringantan pertama. Bahwa sekalipun seorang
senantiasa melakukan amal shaleh dan zuhud (tidak mengejar kemewahan dunia),
tetapi jika aqidahnya rusak sedangkan dia tetap menyakini bahwa aqidahnya masih
betul (lurus) dan tidak pernah merasa sesat, maka dia melihat kesesatan
aqidahnya itu, ketika datang sakaratul maut (hampir mati) nanti.
Pada saat itu yang bersangkutan baru terbelalak kaget,
karena apa yang diyakininya ternyata menyimpang dari jalan Islam yang benar.
Kematian dalam kondisi seperti ini menjadi su’ul
khatimah, lantaran yang bersangkutan tidak sempat bertaubat dari kesesatan
dan kali itu pintu taubat sudah di tutup. Firman Allah dalam ayat 47 surat az-zumar yang
menjelaskan: “..dan jelaskan bagi mereka
azab dari Allah yang belum pernah mereka pikirkan.”
Dalam firman-Nya yang lain dalam ayat 103 hingga 104 surat al-kahfi Allah
menerangkan: katakanlah :”apakah akan
kami beritahu kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu
orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini. Sedang
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
Setiap aqidah yang melenceng dari landasan Islam yang benar
(syari’at Islam), maka segala amal
shaleh dan kezuhudannya, tidak dapat menjadi penolong baginya kelak. Aqidah
yang shahih (yang lurus) adalah yang
telah tertuang dalam al-Quran dan Hadist.
Melanggengkan
perbuatan maksiat
Maksiat adalah perbuatan yang tercela. Namun demikian,
hampir tidak ada manusia yang dapat menghindar dari perilaku maksiat. Yang
bijak jika tenggelam dalam maksiat, segera bangkit dan bertaubat. Mengapa?
Tidak lain kerena setiap perkara yang menjadi kebiasaan pada diri seseorang,
maka hal itu akan kembali diingati ataupun terbayang di saat kematian tiba.
Sekiranya dia senantiasa beramal dengan amalan shaleh, maka
saat datang kematian, dia akan mengenang/ingat, segala kebaikan yang pernah
dilakukan. Manakala dia senantiasa bergelimang dengan dosa, maka ketika
nafasnya akan dicabut oleh malaikat, maka dia akan kembali mengingat/lihat
segala maksiat yang dilakukannya.
Inilah yang menjadi beban dan menjadi dinding penghalang
antara dia dan Allah. Dan hal itu yang menyebabkan sulitnya saat terakhir
sebelum menghembuskan nafas terakhir. Rasulullah SAW bersabda: “celaka orang yang banyak berzikir dengan
lidahnya, tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya.” (riwayat
Adailani).
Orang yang semula ahli maksiat, tapi dengan segera taubat,
maka dia tidak akan mengalami kegetiran sakaratul maut. Bahkan dijanjikan
segala kejahatannta akan digantikan dengan kebaikan sebagaimana firman Allah: “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman
dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (al-Furqan: 70)
Lain halnya dengan mreka yang terus melakukan maksiat
sehingga dosanya bertumpuk-tumpuk, sehingga melebihi jumlah kebaikan dan
ketaatan yang telah dilaksanakan, dan bahkan dia melakukan kemaksiatan dengan
terang-terangan, maka dia akan menghadapi kegetiran ketika sakaratul maut
menjelang.
Kita memohon kepada Allah agar terhindar dari perilaku yang
demikian itu, dan diringankan hati untuk lekas bergegas ke jalan yang lurus
(taubat).
Berpaling dari Islam
Akhir hayat adalah ibarat arena lomba yang masing-masing
tidak tahu garis finisnya. Bila ingin mendapatkan hadiah, setiap peserta wajib
menuntaskan lombanya hingga garis finis. Ketika didapati peserta lomba yang
sedari awal tercatat sebagai peserta pertandingan, akan tetapi dia tidak
menuntaskannya (ber-istiqamah) hingga
di garis finis, maka dia tidak berhak mendapatkan hadiah. Demikianpun, meski
seorang di bagian awalnya memegang teguh agama Islam namun pada perjalanan
berikutnya menjadi murtat (keluar)
maka ia akan mendapati akhir hayat sebagai suul
khatimah (jahat/buruk) di akhir hidupnya.
Sebagaimana yang terjadi pada Iblis, dimana sebelumnya dia
adalah merupakan pemimpin para malaikat dan guru mereka dalam ketaatan kepada
Allah, akan tetapi karena iblis melakukan pembangkangan, maka dia diganjar
sebagai makhluk terkutuk dan sesat.
Begitu pula yang dialami oleh Bal’am ibnu Ba’ura yang mana
merupakan seorang ulama yang hebat pada masanya, tetapi akhirnya menjadi hina
karena nenuruti hawa nafsunya. Begitu pula sorang abid yang bernama Barsisa
yang tenggelam mengikuti jejak langkah syaitan. Kisah Barsisa ini dapat kita
baca dalam tafsir surah al-Hasyr ayat 16 dan 17, contoh bagi orang yang telah
diperdaya oleh syaitan; “(bujukan
orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika berkata kepada
manusia: “kafirlah kamu!”, maka tatkala manusia itu telah kafir maka dia
berkata; “sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku
takut kepada Allah tuhan semesta alam”. Maka adalah kesudahan keduanya, maka
sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam nereka, mereka kekal di dalamnya.
Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.”
Lemah Iman
Terakhir, lemahnya iman menjadi indikasi seseorang akan
masuk kedalam kelompok su’ul khatimah.
Ini terjadi karena seseorang yang memiliki keimanan yang lemah, maka lemahlah
kecintaanya kepada Allah, sebaliknya: kuat dan bertambahlah kecintaan kepada
dunia.
Suasana hati yang seperti ini (akibat lemahnya iman), akan
menyebabkan dia tidak merasa bersalah ketika melakukan tindakan maksiat, dan
tidak merasa bahwa dia akan mempertanggungjawabkan apa yang sedang/telah
dilakukannya kepada Allah. Dia bahkan melakukannya dengan bebas tanpa rasa
takut dan khawatir pada aturan agama.
Sungguh berbahaya suasana jiwa yang seperti ini, sebab bila
tiba saat kematian, akan semakin bertambah-tambah kecintaan kepada dunia,
sesuatu yang pasti akan ditinggalkannya. Dia rasa begitu sayu dan payah untuk
meninggal dunia yang penuh penipuan ini, maka ketika nafasnya berpisah dari
jasad dalam suasana seperti ini, maka dia termasuk golongan mereka yang jahat
akhir hidupnya.
Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa dan kesalahan kami,
dan jauhkanlah kami dari kelompok orang-orang yang tersebut diatas. Jadikanlah
akhir hayat kami sebaik-baik pengakhiran, khusnul
khatimah.