Archive for February, 2007

Dilahirkan Untuk Menang

Thursday, February 8th, 2007

Di suatu hari, di sebuah rumah yang sederhana terlihat seorang anak TK sedang menangis di depan ibunya yang sedang duduk di sofa, "Bu, kenapa tadi aku kalah dalam lomba lari?, padahal aku ingin sekali menjadi juara, jadi juara dan membawa pulang piala buat ibu…"
Tiba-tiba anaknya yang masih SD datang dengan muka cemberut, melihat putranya kelihatan sedih, sang ibu bertanya, "Kenapa muka kamu dilipat seperti itu? Ada apa nak?"

Dengan perasaan kesal sang anak menjawab, "Tadi di sekolah aku dihukum berdiri di depan kelas oleh pak guru karena nilai ulangan Matematikaku terendah di kelas, aku malu bu, malu…!".
Tak lama berselang, datang lagi anak perempuannya  yang masih SMP, masuk sambil membanting pintu…brakk! "Hei, kenapa kamu? Datang-datang marah, mbok ya sopan dikit, kasih contoh yang baik pada adik-adikmu…".

"Aku gagal ikut olimpiade Fisika Bu, kandas sudah impianku, sekarang aku nggak mau belajar lagi!", jawab si anak.
Suasana sejenak tegang, tiba-tiba datang anak sulungnya yang baru lulus SMA tak kalah murung dan langsung membantingkan badan di sofa, semua mata memandang penuh tanda tanya. Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, sang anak berucap, "Aku gagal diterima kuliah di universitas, aku tak tahu harus bagaimana lagi… Maaf  bu, aku gagal…"

Kini suasana benar-benar menjadi hening, anak-anak terlihat sedih dengan pikirannya masing-masing. Terlihat sang ibu mengernyitkan dahi, berusaha berpikir keras. Tak lama kemudian terdengar suara sang ibu memecah kesunyian, "Anak-anakku, kalian jangan besedih. Kegagalan kalian hari ini, bukan berarti kalian akan gagal esok, lusa atau selamanya. Jadikan kegagalanmu hari ini sebagai pemacu semangatmu meraih sukses esok hari. Kegagalan adalah rangkaian proses meraih sukses. Kalian jangan bersikap seperti pecundang yang meratapi setiap kegagalan. Percayalah, kalian dilahirkan bukan jadi pecundang, kalian dilahirkan untuk menang…! Sekarang bangkitlah, ambillah air wudlu lalu sholatlah. Waktu Dhuhur sudah tiba".
Kemudian anak-anakpun bangkit bergegas mematuhi perintah sang ibu, hati mereka kini agak tenang.

Ya, benarlah kata sang ibu, kita memang dilahirkan untuk menang…! Sejak adanya kita, kita memang sudah jadi pemenang. Dulu, sewaktu kita masih berupa benih manusia, bukankah kita berjuang mati-matian bersaing melawan jutaan sel sperma yang lain untuk mencapai sel telur ibu. Lalu kitalah pemenangnya sehingga lahirlah kita ke dunia ini. Betapa dulu kita telah mengalahkan begitu banyak pesaing, bukankah sesungguhnya kita ini hebat. Kenapa sekarang kita tidak sehebat pada awalnya?

Demikianlah sahabat, seharusnya hal itu mengilhami kita agar kita menjadi lebih hebat lagi dari diri kita yang ada sekarang ini. Namun sayangnya, sekarang dengan berlalunya waktu, kita menjadi lupa dengan awal penciptaan diri kita, lupa dengan awal kesuksesan spektakuler yang dulu pernah kita raih.

Sayangnya, sekarang hanya menghadapi kegagalan kecil saja kita mudah berubah menjadi seorang pengecut yang bermuram durja, bahkan tidak segan kita lari dari rintangan dan masalah yang menghadang. Saat sesuatu hal berjalan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, kita menjadi patah semangat, pesimis, dan berpikiran negatif.

Ingat selalu kata orang bijak, "Jaga pikiran Anda, mereka menjadi kata-kata Anda. Jaga kata-kata Anda, mereka menjadi tindakan  Anda. Jaga tindakan Anda, mereka menjadi kebiasaan Anda. Jaga kebiasaan Anda, mereka menjadi sifat Anda."

Jika sudah menjadi sifat Anda untuk menjaga pikiran, kata-kata, tindakan, dan kebiasaan Anda, Anda akan dapat dengan mudah menyingkirkan pikiran negatif Anda saat hal itu timbul mengiringi kegagalan. Pola pikir negatif adalah hasil dari emosi yang kacau, tanpa mempertimbangkan akal sehat. Jika Anda telah menyadari hal itu, Anda bisa memastikan yang baik untuk diri Anda dan kesuksesan pun akan semakin dekat dengan Anda.

Hellen Keller, seoarang yang buta, tuli, dan gagu, tapi bisa lulus dari Harvard University dan telah mengilhami jutaan orang berkata, "Tidak ada seorang pesimis pun yang pernah menemukan rahasia bintang-bintang, atau berlayar ke tanah yang belum tercantum di peta, atau membuka sebuah pintu baru bagi jiwa manusia".

Percayalah sahabat, kita dilahirkan bukan untuk jadi seoarng pesimis, bukan untuk jadi seorang pecundang…, kita dilahirkan untuk menang!!!

Selamat meraih kemenangan Anda yang luar biasa! (Agus Riyanto)

Qadha dan Qadar/Taqdir

Saturday, February 3rd, 2007

Kita akan membicarakan masalah qadha dan qadar/taqdir. Zaman Rasul tidak ada wacana tetang taqdir, baru ada ketika jaman Khalifah kedua, Umar bin Khatthab muncul istilah tersebut, kemudian makin berkembang ketika zaman khalifah Ummayyah setelah khalifah Ali. Saat itu, taqdir dipersepsikan salah. Dulu ketika Ali wafat maka digantikan putranya Hasan, yang ternyata umat Islam pecah, maka dia mengundurkan diri. Lalu Hasan digantikan oleh adiknya Husein, nah Husein ini dibunuh oleh bani Ummayyah. Kemudian berkuasalah khalifah Ummayyah mengeser Husein. Demi kepentingan politiknya maka Ummayyah memberikan wacana kepada Umat Islam, bahwa terbunuhnya Husein itu sudah merupakan taqdir Allah. Husein tidak dibolehkan memerintah, buktinya adalah dia tewas, yang diperbolehkan oleh Allah adalah dirinya, begitu kata pembesar-pembesar dan pengikut-pengikut Ummayyah..

Itulah taqdir, begitu wacana sesat yang dihembuskan dinasti Ummayyah. Jadi bagaimana makna tadir itu sebenarnya ? Kita harus kembali kepada keterangan-keterangan Allah lewat Qurannya.

“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ukuran bagi tiap-tiap sesuatu.” QS. 65:3

Menurut firman Allah dalam Al-Quran, segala sesuatu itu sudah ada ukurannya, sudah ada taqdirnya.. Maka taqdir adalah sebuah rumusan yang Allah tetapkan dan berlaku pada tiap-tiap sesuatu. Taqdir bisa dikatakan merupakan sistem Allah yang Dia terapkan pada apapun di dunia ini. Taqdirnya air laut adalah apabila dia disinari matahari sampai lama maka akan menguap menjadi awan. Taqdirnya api kalo disiram air yang cukup maka akan mati.

Dengan demikian, alam semesta kecuali manusia itu tidak diberi kesempatan untuk memilih taqdir-taqdirnya. Sedangkan manusia diberi kebebasan untuk memilih taqdir yg diinginkannya. Taqdirnya manusia yang rajin dan sabar maka akan berhasil, taqdirnya manusia yang malas maka akan sengsara hidupnya. Silahkan manusia untuk memilihnya, apakah menjadi manusia yang rajin ataukah manusia yang pemalas.

Bumi diberikan taqdirnya untuk urusan berevolusi hanya satu untuk mengitari matahari, dia tidak boleh mengitari planet atau bintang2 yang lain, bisa kacau nanti. Sedangkan manusia silahkan memilih taqdir untuk kehidupannya, hanya Allah menganjurkan kepada manusia untuk memilih taqdir yang terbaik buat dirinya, bukan sekedar taqdir yang baik, tapi yg terbaik.

Sering terdengar bahwa jodoh, rizki dan mati adalah taqdir Allah, padahal semua yg terjadi di dunia ini adalah taqdir (rumusan2) dari Allah. Seringkali kita baru katakan itu taqdir kalau kita mendapat musibah, padahal apabila kita mendapat kesuksesan dan kebahagiaan itu juga taqdir dari sekian taqdir yang kita pilih.

Rumusan-rumusan Allah itu tertuang dalam Lauhil Mahfudh yang mencakup rumusan Qadha dan Qadar/Taqdir tadi. Jadi Lauhil Mahfudh adalah ibarat sebuah prasasti yang menyimpan ilmu-ilmu Allah yang terpelihara. Perbedaan Qadha dan qadar adalah :

Qadha itu adalah rumusan-rumusan Allah secara global, seperti misalkan bahwa tiap makhluk yang bernyawa pasti mati. Qadar/taqdir adalah rumusan-rumusan Allah yang terinci atau rinciannya, spt misalnya ayam akan mati pada saat apa dan dimana. Sedangkan qadar/taqdir pada manusia adalah tergantung dari pilihan manusia itu sendiri.

Jadi kesimpulannya adalah qadha dan qadar adalah sistem Allah yang berlaku di dunia ini pada siapapun dan apapun. Hanya kita sebagai manusia dipersilahkan utk memilih taqdir, mau beriman silahkan, mau kafir juga boleh masing-masing ada taqdirnya. Allah menghendaki kita memilih taqdir yg terbaik buat kita. Sedangkan alam raya ini tidak bisa memilih taqdirnya.

Nah, alam semesta ini sengaja Allah hamparkan di muka bumi ini agar kita bisa memilih dan menemukan taqdir yg terbaik untuk kita. Pilihan rizki terbaik, jodoh terbaik, karir terbaik, kesejahteraan terbaik, nasib yang terbaik harus kita usahakan sendiri.

Mengenai nasib yang menimpa manusia, Allah tidak menentukan tapi manusialah yg menentukan sendiri nasibnya. Ibaratnya Allah sudah kasih tahu kepada manusia apabila dia berbuat A maka dampaknya X, tapi kalo berbuat B maka dampaknya Y. Nah apabila manusia memilih A maka dia akan bernasib X… Jadi bukan Allah yg menentukan nasib manusia tapi manusianyalah yg memilih untuk itu.

Prof. Dr. Quraish Shihab: Metro TV, 6 Juni 2004