Archive for April, 2007

kemacetan yg gilaaa

Friday, April 6th, 2007

kamis, 5 april 2006. hari ini bangun pagi yang telat, biasanya bangun jam 4.45 pagi, ini baru bangunnya jam 5.30. agenda pada hari ini dimulai dengan makan sarapan, kemudian mandi, kemudian cek email, ini semua adalah agenda rutin yang dilakukan hari2.

agenda utama hari ini adalah menemani tamu kantor dari Brunai Darussalam Mr. Alan dan Pah Haji Aseli, mereka di jakarta sudah 3 hari yang lalu, kemarin dan hari ini adalah giliran tempat kerja gw untuk menemani mereka selama di jakarta. sebelum mebertemu mereka diselingi dengan kegiatan bertemu dengan salah satu staf Ahli menteri DEPKOP yang kebetulan temannya teman gw.

perjalan baru dimulai dari kantor jam 11.00 AM menuju BDN tower di Thamrin dengan Taxi untuk mengambil mobil yang lebih dulu bibawa sama teman ke Menara BDN. sampai disana sekitar jam 12.OOAM, setelah telp-telp-an ama teman kahirnya hrs ambil sendiri sendiri ke lt.20 krn dianya sedang meeting.

akhirnya dapat kunci dan bukti parkir setelah 15 menit menggu di lobi kantor tersebut, lansung melanjutkan perjalanan ke arah stibudi (dekat pasar festival), namun baru saja keluar sudah berhadapan dengan kemacetan yang luar biasa, mobilnya hampir2 tidak bergerak. karena sudah terlanjur janji perjalanan tetap saja harus dilanjutkan. setelah 2,5 jam berjalan yang jaraknya mungkin sekitar 6 km. kemacetan ini kemungkinan besar di sebabkan oleh hujan yang mengguyur sebagian kota jakarta.

setlah bertemu dengan temannya teman gw yg sekarang menjadi staff Ahli menteri, perjalanan dilanjutkan lagi ke Patra Jasa tower, menjemput mr Alan & Pak Haji Aseli, sampai disana jam 4.30. akhirnya shalat ashar terlebih dahulu baru kemudian bertemu dengan mereka di lobi kantor. setelah ngobril sekitar 5 menit, lansung melanjutkan perjalanan ke bandara karena karena takut ke jebak macet dan bisa2 perjalanannya ke tunda.

semala di perjalanan mr Alan dan Haji Aseli ngorol banyak tentang Brunai dan mereka membandingkannya dengan jakarta. katanya kalo tinggal di jakarta tidak nyaman dan banyak habis waktu di jalanan, berbeda dengan brunai tidak ada kemacetan, kemana2 bisa ditempuh dalam waktu singkat. setelah sampai di bandara kami ngobrol2 selama 2 jam sambil mengununggu check-in dibuka.

setelah mereka masuk check in, kami melanjutkan perjalanan ke tangerang, rumahnya teman. sampai disana jam 8 malam. sekitar 15 menit disitu baru lanjutkan perjalan pulang ke cawang, tidak ada teman ngobrol yang ada hanya suara radio yg menemani.

pada saat awal2 masuk tol tidak ada tanda2 kemacetan, kendaraan bida dipacu hingga 100km/jam, itu hanya 15 menit saja. semakin dekat dengan jakarta mulai nampak kemacetan, dan banyak diantara mobil yang mengantri masuk ke jakarta adalah mobil2 truk kontainer. setelah bergelut dengan kemacetan selama 4 jam akhirnya sampai juga dirumah.

Titipan

Wednesday, April 4th, 2007

Seringkali kau berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titpan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja,
untuk melukiskan bahwa itu derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan

Seolah……..
semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah…..
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika.

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih…

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku"
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti……,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…..

Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan tidak ada bedanya.

(WS Rendra)