Kasih Ibunda

January 28th, 2007 by gwmukhlis

Suatu pagi di sebuah perkampungan miskin. Tampak seorang ibu dengan penuh semangat sedang membikin adonan untuk membuat tempe, pekerjaan membuat dan menjual tempe telah digeluti selama bertahun-tahun sepeninggal suaminya.

Saat membuat adonan, sesekali pikirannya menerawang pada sepucuk surat yang baru diterima dari putranya yang sedang menuntut ilmu di rantau orang. Dalam surat itu tertulis, “Bunda tercinta, dengan berat hati, ananda mohon maaf harus mohon dikirim uang kuliah agar dapat mengikuti ujian akhir. Ananda mengerti bahwa bunda telah berkorban begitu banyak untuk saya. Ananda berharap secepatnya menyelesaikan tugas belajar agar bisa menggantikan bunda memikul tanggung jawab keluarga dan membahagiakan bunda. Teriring salam sayang dari anakmu yang jauh.”

Dua hari lagi adalah hari pasaran, biasanya tempe hasil buatan si ibu dibawa ke pasar untuk dijual. Kali ini, tempe yang dibuat dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya, dengan harapan mendapatkan lebih banyak uang sehingga bisa mengirimkan ke anaknya.

Sehari menjelang hari pasar, hati dan pikiran si ibu panik karena tempe buatannya tidak jadi, entah karena konsentrasi yang tidak penuh atau porsi tempe yang dibuat melebihi biasanya. Kemudian si ibu pun sibuk berdoa dgn khusuk di sela-sela waktu yang tersisa menjelang keberangkatannya ke pasar, memohon kepada Tuhan diberi kemujizatan agar tempenya siap dijual dalam keadaan jadi. Tetapi sampai tibanya dia di pasar, tempenya tetap belum jadi.

Sepanjang hari itu dagangannya tidak laku terjual. Si ibu tertunduk sedih, matanya berkaca-kaca membayangkan nasib anaknya yang bakal tidak bisa mengikuti ujian. Saat hari pasar hampir usai para pedagang lain pun mulai meninggalkan pasar, tiba-tiba datang seorang ibu berjalan dengan tergesa-gesa, “Bu, saya nyari tempe yang belum jadi, dari tadi nggak ada, ibu tahu saya harus cari ke mana?”

“Untuk apa tempe belum jadi kok dicari?” tanya si penjual heran.

“Saya mau membeli untuk dikirim ke anak saya di luar kota, dia sedang ngidam tempe khas kota ini,” kata ibu calon pembeli.

Ibu penjual tempe ternganga mendengar kata-kata yang baru didengarnya, seakan tak percaya pada nasib baiknya, seolah tangan Tuhan memberi kemurahan kepadanya. Akhirnya tempe dagangannya diborong habis tanpa sisa. Dia begitu senang, bersyukur dan menambah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan diri umatnya selama manusia itu sendiri tidak putus asa dan tetap berjuang.

Kekuatan berusaha dan berdoa.

Pepatah kuno menyatakan, ora et labo`ra, berusaha dan berdoa. Memang, doa dan usaha harus seiring dan sejalan dalam perjalanan hidup setiap manusia. Doa dibutuhkan untuk mengingatkan kita agar senantiasa menapak langkah di jalan benar yang diridhoi oleh yang Maha Kuasa dan tetap mampu bersikap sabar, gigih, dan ulet saat menghadapi segala macam halangan, rintangan dan cobaan, sekaligus mampu memelihara antusiasme dalam memperjuangkan apa yang telah kita tetapkan demi mewujudkan kesuksesan.

Di kesempatan yang berbahagia ini pula, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007. Mari dengan segenap kekayaan mental yang optimis dan aktif, kita singsingkan lengan baju siap bekerja keras untuk mengisi tahun baru ini dengan harapan baru! Semangat baru! Agar tercapai sukses yang lebih gemilang! Sukses lebih luar biasa!!!

Di kesempatan yang berbahagia ini pula, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007. Mari dengan segenap kekayaan mental yang optimis dan aktif, kita singsingkan lengan baju siap bekerja keras untuk mengisi tahun baru ini dengan harapan baru! Semangat baru! Agar tercapai sukses yang lebih gemilang! Sukses lebih luar biasa!!!(Andrie Wongso)

Tanda-tanda Su’ul Khatimah

January 26th, 2007 by gwmukhlis

Mati adalah satu kepastian, cepat atau lambat. Maka ketika
‘panggilan akhir’ kehidupan dunia ini sudah tiba, tidak ada rumus yang
membedakan; tua-muda, dewasa-anak-anak, kaya-miskin, rakyat jelata atau
bangsawan, tinggal di rumah gedongan maupun di kolong jembatan, semua kebagian
jatah yang sama: mati. Panggilan itu sungguh-sungguh tepat waktu, tidak bisa
dimajukan (walau melalui berbagai cara) ataupun di tunda (juga dengan berbagai
usaha). Innalillah wa inna ilaihi
raajiuun
.

Yang penting bagi kita sebagai muslim, bagimana agar tugas
akhir dalam kehidupan sebagai abdullah
(hamba Allah) maupun sebagai khalifah
(wakil Allah) di muka bumi ini, menyandang gelar terhormat, dengan jaminan dan
keistimewaan yang luar biasa yakni, khusnul
khatimah
.

Dalam tulisan al-Quran kali ini, akan mengungkapkan
ciri-ciri atau sebab-sebab amalan yang mengantarkan seseorang pada akhir
kehidupan yang buruk atau su’ul khatimah.
Semoga kita dapat menghindarinya dan masuk kedalam kelompok yang berpulang (meninggal
dunia) dengan cara khusnul khatimah. Amin ya rabbal a’lamin

Sebab-sebab atau ciri-ciri su’ul khatimah tersebut adalah sebagai berikut:

Rusak Aqidahnya

Ini adalah peringantan pertama. Bahwa sekalipun seorang
senantiasa melakukan amal shaleh dan zuhud (tidak mengejar kemewahan dunia),
tetapi jika aqidahnya rusak sedangkan dia tetap menyakini bahwa aqidahnya masih
betul (lurus) dan tidak pernah merasa sesat, maka dia melihat kesesatan
aqidahnya itu, ketika datang sakaratul maut (hampir mati) nanti.

Pada saat itu yang bersangkutan baru terbelalak kaget,
karena apa yang diyakininya ternyata menyimpang dari jalan Islam yang benar.
Kematian dalam kondisi seperti ini menjadi su’ul
khatimah
, lantaran yang bersangkutan tidak sempat bertaubat dari kesesatan
dan kali itu pintu taubat sudah di tutup. Firman Allah dalam ayat 47 surat az-zumar yang
menjelaskan: “..dan jelaskan bagi mereka
azab dari Allah yang belum pernah mereka pikirkan.”

Dalam firman-Nya yang lain dalam ayat 103 hingga 104 surat al-kahfi Allah
menerangkan: katakanlah :”apakah akan
kami beritahu kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu
orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini. Sedang
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Setiap aqidah yang melenceng dari landasan Islam yang benar
(syari’at Islam), maka segala amal
shaleh dan kezuhudannya, tidak dapat menjadi penolong baginya kelak. Aqidah
yang shahih (yang lurus) adalah yang
telah tertuang dalam al-Quran dan Hadist.

 
Melanggengkan
perbuatan maksiat

Maksiat adalah perbuatan yang tercela. Namun demikian,
hampir tidak ada manusia yang dapat menghindar dari perilaku maksiat. Yang
bijak jika tenggelam dalam maksiat, segera bangkit dan bertaubat. Mengapa?
Tidak lain kerena setiap perkara yang menjadi kebiasaan pada diri seseorang,
maka hal itu akan kembali diingati ataupun terbayang di saat kematian tiba.

Sekiranya dia senantiasa beramal dengan amalan shaleh, maka
saat datang kematian, dia akan mengenang/ingat, segala kebaikan yang pernah
dilakukan. Manakala dia senantiasa bergelimang dengan dosa, maka ketika
nafasnya akan dicabut oleh malaikat, maka dia akan kembali mengingat/lihat
segala maksiat yang dilakukannya.

Inilah yang menjadi beban dan menjadi dinding penghalang
antara dia dan Allah. Dan hal itu yang menyebabkan sulitnya saat terakhir
sebelum menghembuskan nafas terakhir. Rasulullah SAW bersabda: “celaka orang yang banyak berzikir dengan
lidahnya, tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya.”
(riwayat
Adailani).

Orang yang semula ahli maksiat, tapi dengan segera taubat,
maka dia tidak akan mengalami kegetiran sakaratul maut. Bahkan dijanjikan
segala kejahatannta akan digantikan dengan kebaikan sebagaimana firman Allah: “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman
dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
(al-Furqan: 70)

Lain halnya dengan mreka yang terus melakukan maksiat
sehingga dosanya bertumpuk-tumpuk, sehingga melebihi jumlah kebaikan dan
ketaatan yang telah dilaksanakan, dan bahkan dia melakukan kemaksiatan dengan
terang-terangan, maka dia akan menghadapi kegetiran ketika sakaratul maut
menjelang.

Kita memohon kepada Allah agar terhindar dari perilaku yang
demikian itu, dan diringankan hati untuk lekas bergegas ke jalan yang lurus
(taubat).

 
Berpaling dari Islam

Akhir hayat adalah ibarat arena lomba yang masing-masing
tidak tahu garis finisnya. Bila ingin mendapatkan hadiah, setiap peserta wajib
menuntaskan lombanya hingga garis finis. Ketika didapati peserta lomba yang
sedari awal tercatat sebagai peserta pertandingan, akan tetapi dia tidak
menuntaskannya (ber-istiqamah) hingga
di garis finis, maka dia tidak berhak mendapatkan hadiah. Demikianpun, meski
seorang di bagian awalnya memegang teguh agama Islam namun pada perjalanan
berikutnya menjadi murtat (keluar)
maka ia akan mendapati akhir hayat sebagai suul
khatimah
(jahat/buruk) di akhir hidupnya.

Sebagaimana yang terjadi pada Iblis, dimana sebelumnya dia
adalah merupakan pemimpin para malaikat dan guru mereka dalam ketaatan kepada
Allah, akan tetapi karena iblis melakukan pembangkangan, maka dia diganjar
sebagai makhluk terkutuk dan sesat.

Begitu pula yang dialami oleh Bal’am ibnu Ba’ura yang mana
merupakan seorang ulama yang hebat pada masanya, tetapi akhirnya menjadi hina
karena nenuruti hawa nafsunya. Begitu pula sorang abid yang bernama Barsisa
yang tenggelam mengikuti jejak langkah syaitan. Kisah Barsisa ini dapat kita
baca dalam tafsir surah al-Hasyr ayat 16 dan 17, contoh bagi orang yang telah
diperdaya oleh syaitan; “(bujukan
orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika berkata kepada
manusia: “kafirlah kamu!”, maka tatkala manusia itu telah kafir maka dia
berkata; “sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku
takut kepada Allah tuhan semesta alam”. Maka adalah kesudahan keduanya, maka
sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam nereka, mereka kekal di dalamnya.
Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.”

Lemah Iman

Terakhir, lemahnya iman menjadi indikasi seseorang akan
masuk kedalam kelompok su’ul khatimah.
Ini terjadi karena seseorang yang memiliki keimanan yang lemah, maka lemahlah
kecintaanya kepada Allah, sebaliknya: kuat dan bertambahlah kecintaan kepada
dunia.

Suasana hati yang seperti ini (akibat lemahnya iman), akan
menyebabkan dia tidak merasa bersalah ketika melakukan tindakan maksiat, dan
tidak merasa bahwa dia akan mempertanggungjawabkan apa yang sedang/telah
dilakukannya kepada Allah. Dia bahkan melakukannya dengan bebas tanpa rasa
takut dan khawatir pada aturan agama.

Sungguh berbahaya suasana jiwa yang seperti ini, sebab bila
tiba saat kematian, akan semakin bertambah-tambah kecintaan kepada dunia,
sesuatu yang pasti akan ditinggalkannya. Dia rasa begitu sayu dan payah untuk
meninggal dunia yang penuh penipuan ini, maka ketika nafasnya berpisah dari
jasad dalam suasana seperti ini, maka dia termasuk golongan mereka yang jahat
akhir hidupnya.

Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa dan kesalahan kami,
dan jauhkanlah kami dari kelompok orang-orang yang tersebut diatas. Jadikanlah
akhir hayat kami sebaik-baik pengakhiran, khusnul
khatimah
.

Tersentuh Pesan SMS, Ponsel Curian Dikembalikan

January 22nd, 2007 by gwmukhlis

Beijing, Umumnya jarang sekali ada pencopet yang mau mengembalikan barang jambretannya ke korban, terlebih jika barang tersebut berharga. Lain halnya dengan kasus pencopetan di Cina yang satu ini.

Seorang pencopet mengembalikan ponsel dan ribuan yuan uang yang ia curi dari seorang wanita. Pasalnya, sang korban mengiriminya 21 pesan singkat (SMS) yang rupanya isinya menyentuh perasaan maling itu.

Pan Aiying, korban yang berprofesi sebagai guru di timur propinsi Shandong ini, saat itu membawa tas berisi ponsel, kartu ATM dan uang sebesar 4.900 yuan (US$ 630). Sialnya dalam perjalanan pulang dengan mengendarai sepeda, tasnya diserobot oleh seorang lelaki yang mengendarai sepeda motor.

Awalnya Pan berencana melaporkan kasus ini ke polisi, namun akhirnya ia memutuskan untuk melakukan pendekatan lebih dulu pada pencopetnya agar mau mengembalikan tas itu.

Pan kemudian menghubungi nomor ponselnya melalui ponsel koleganya. Karena tidak tersambung, ia lalu mengirimkan sebuah pesan singkat yang berbunyi: "Saya Pan Aiying, guru dari Wutou Middle Scholl. Anda pasti sedang dalam keadaan yang sulit. Kalau benar, saya tidak menyalahkan Anda". Demikian isi SMS pertama yang notabene tidak mendapat balasan.

"Simpanlah uang itu jika Anda membutuhkannya, tapi saya mohon kembalikan benda lainnya. Anda masih muda. Berbuat salah itu manusiawi. Tetapi mengoreksi kesalahan Anda lebih penting dari yang lain," tulis Pan lagi melalui SMS. Demikian diberitakan agen berita Xinhua, yang dikutip detikINET dari Reuters, Selasa (23/1/2007).

Akhirnya Pan menyerah dan berhenti berharap barang-barangnya bakal dikembalikannya, setelah mengirimkan 21 pesan singkat tanpa balasan.

Rupanya sang pencopet tersentuh dengan isi pesan SMS itu. Pada suatu hari, Pan tiba-tiba menerima bungkusan paket yang diletakkan di halaman rumahnya. Paket itu berisi tasnya yang dicuri lengkap dengan isinya tanpa kurang suatu apapun.

Dalam paket itu juga terdapat surat yang berbunyi: "Dear Pan, saya minta maaf berbuat kesalahan. Tolong maafkan saya. Anda sangat toleran sekalipun saya curi barang Anda. Saya akan mengoreksi kesalahan saya dan menjadi orang yang benar." (dwn/dwn)

Khutbah ‘Iedul Adha “Melahirkan Kader dan Pemimpin Sejati”

December 29th, 2006 by gwmukhlis

Kita merindukan kader yang siap menghadapi benturan  dan berkorban sebagaimana  sosok  Ibrahim  dan keluarganya.

Allahu Akbar- Allah Akbar- Allahu Akbar 3X

Allahu Akbar walillahilhamd

Ikhwanie kaum Muslimin yang rahimakumullah !

Di pagi yang penuh berkah ini, kita semua memuja dan memuji kebesaran dan keagungan Allah SWT, sebagai wujud kesyukuran kita atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga. Kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini.                                                                                                               

Hari raya Idhul Adha atau Idhul Qurban seperti yang kita laksanakan pada hari ini menyegarkan kembali ingatan kita kepada sejarah pengorbanan yang luar biasa yang telah dilakukan oleh sosok Nabiyullah Ibrahim As bersama keluarganya, Siti Hajar dan Ismail As. Pengorbanan luar biasa dari sosok Nabiyullah Ibrahim As bersama keluarganya ini dijadikan oleh Allah SWT sebagai patron untuk menjadi tauladan bagi seluruh ummat manusia sepanjang zaman. Hal ini diakui dan dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dalam sebuah firman-Nya:
“Sungguh adalah bagi kamu menjadi contoh teladan yang baik tentang kehidupan Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. (S. Al-Mumtahanah : 4).

Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan bebas dari kesemrawutan dan kebrutalan yang melanda dunia saat ini. 

Nabi Ibrahim adalah sosok Pemimpin yang sangat konsen dan sabar dalam membina kader, yang diharapkan menjadi pemimpin pelanjut perjuangan.

Pada usia perkawinan yang sudah sangat senja, disaat beliau dan Istri sudah tua, anak yang ditunggu-tunggu, generasi pelanjut yang diidam-idamkan belum juga dikaruniakan. Penantian yang panjang seperti itu tidaklah menyebabkan Nabiyullah Ibrahim As berputus asa dari Rahmat Allah SWT. Dalam masa penantian yang panjang tersebut, Beliau tetap istiqomah, terus menerus berdo’a dan memohon kepada Allah agar dianugerahi keturunan yang Sholeh. Beliau selalu berdo’a “Robbi habli minassholihin, Robbi habli minassholihin, Robbi habli minassholihin”, Yaa Allah ya Tuhan-ku karuniakanlah kepadaku anak yang sholeh. Akhirnya Allah menganugrahkan kepada beliau Ismail As.

Tatkala Ismail, Sang generasi pelanjut yang telah lama dinantikan telah mencapai umur sanggup “membantu dan berusaha bersama Ayahnya”, umur yang sudah bisa diajak bertukar pikiran untuk mencari penyelesaian problem yang ada, umur dimana Ismail telah menampakkan tanda-tanda kesholehan dan kekaderannya, umur yang sangat menyenangkan untuk diajak jalan bersama, yang oleh Al-qur’an disebut dengan ma’ahus sa’ya, datanglah ujian keimanan berikutnya.

Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim As untuk menempatkan  keluarganya, Siti Hajar dan Ismail di Makkah dekat dengan ka’bah. Hal ini diterangkan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj sebagai berikut:

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di sebuah lembah yang tiada tanam-tanamannya, di dekat rumah-Mu yang disucikan”.

Lihatlah bagaimana sosok Nabiyullah Ibrahim As diuji oleh Allah dengan Ujian yang sangat berat. Di satu sisi Nabi Ibrahim diperintahkan untuk berpisah dengan anak dan Istrinya dan di sisi yang lain beliau diperintahkan untuk menempatkan keluarganya, Istri yang baru melahirkan dan anaknya yang masih merah di sebuah tempat yang gersang, bahkan sangat gersang, saking gersangnya sampai rumputpun tidak tumbuh sama sekali. Istri ditinggal sendiri tanpa suami dan sanak keluarga, tanpa pembantu dan tetangga. Ditinggal di gurun pasir yang panas dan bukit batu yang ganas.

Setelah ditinggal Nabiyullah Ibrahim, maka tinggallah Siti Hajar sebatang kara dengan anaknya. Hari-hari dilaluinya sendiri bersama anaknya dengan bekal seadanya. Waktu terus berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Semakin lama, persedian  bekal  semakin menipis. Akhirnya perbekalan habis sama sekali. Tiada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong, tiada keluarga tiada saudara, juga tiada tetangga. Air susupun telah kering, sementara anak menangis kehausan. Dalam kondisi seperti itu Jiwa kasih seorang Ibu yang ada pada diri Siti hajar menyebabkan dia harus berlari-lari antara bukit shofa dan marwa untuk mencari dan mendapatkan air untuk keberlangsungan hidup anaknya.

Demikianlah seorang Hajar berusaha dan terus berusaha, berlari dari shafa ke marwah untuk mendapatkan pertolongan. Namun apa yang diharapkan tidak kunjung didapatkan. Walau demikian beliau tetap tegar dan optimis dan terus berlari, sa’i, berusaha dari bukit shafa dan marwah sampai 7 kali. Setelah mujahadah, usaha maksimal dilakukan oleh Hajar, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyang menurunkan bantuan-Nya dengan mengeluarkan mata air di dekat kaki Ismail.

Ujian berat yang diterima Nabiyullah Ibrahim As tidak berhenti sampai di situ saja. Ternyata setelah Ismail beranjak dewasa, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah yang tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-Nya,  memerintahkan kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putra tercinta, putra tunggal, harapan satu-satunya yang menjadi pelanjut risalah perjuangan.

Cinta Orang tua kepada Anak, harapan pemimpin kepada kader pelanjut perjuangan, dan rasa belas kasih seorang hamba diperhadapkan dibenturkan dengan ketaatan dan kepasrahan kepada kehendak dan perintah Allah Yang Maha Kuasa.

Nabi Ibrahim menyadari bahwa hidup ini harus selalu dalam ketaatan kepada Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ketaatan kepada Allah adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Apapun pengorbanan yang diminta, apapun resiko yang harus ditanggung, perintah Allah itulah yang terbaik, Perintah Allah itulah yang harus didahulukan, Perintah Allah itulah yang harus diikuti, ditaati dan dilaksanakan. Bahkan sampai pada tingkat dimana perintah itu dalam pandangan kita terasa dan terlihat seperti sesuatu yang sangat tidak wajar, tidak masuk akal, bahkan tidak manusiawi, harus dan wajiblah kita sebagai seorang yang mengaku beriman untuk mengatakan “Sami’na wa atha’naa – Kami dengar dan kami patuhi”.

Menyadari akan hal tersebut, Nabi Ibrahim pun menajamkan aqidah dan keyakinannya untuk mewujudkan perintah itu. Beliau kemudian menyampaikan perintah Allah tersebut kepada putranya, Ismail AS. Sungguh jawaban dan respon yang beliau dapatkan sangat luar biasa. Tatkala belaiu mengatakan kepada Ismail, Wahai Anakku sungguh aku melihat dalam mimpiku bahwa Aku diperintahkan Allah untuk menyembelihmu, maka kemukakanlah bagaimana pendapatmu?. Dengan tegas, sopan dan penuh keyakinan kepada Rahmat dan Kasih Sayang Allah SWT, Ismail As menampakkan bukti kesholehannya,  dengan mengatakan:

"Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepada ayah, Insya Allah  ayah akan mendapati saya dalam keadaan sabar".(As-Shaffat;102)

Allahu Akbar 3X, walillahilhamd !

Ikhwanie kaum Muslimin yang berbahagia.

Jawaban yang dilontarkan oleh Ismail ini adalah gambaran keberhasilan sebuah proses pendidikan, yaitu pendidikan tauhid, sebuah pendidikan yang telah dilakoni dengan gemilang oleh Nabiyullah ibrahim dalam keluarga beliau. Pendidikan tauhid ini menjadikan Ismail mampu menjalankan perintah Allah hatta dengan resiko pengorbanan nyawa.

Keteguhan hati dan kepasrahan yang tinggi bagi Ismail untuk menerima perintah Allah yang sangat berat itu, disebabkan karena keberhasilan kedua orang tuanya menanamkan ketauhidan dalam jiwanya.

Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik dan mengkader anaknya bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat saja. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang butuh waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail sehingga terpatri dalam jiwanya.

Memang untuk mendapatkan kader sebagaimana yang kita harapkan, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar.  Makanya sangat aneh kalau seorang orang tua atau pemimpin menginginkan kader pelanjut dalam konteks perjuangan Islam, sementara perhatian dan pengorbanannya untuk itu masih kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatiannya sudaha besar tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan ruhaninya, bukan pembekalan spirit kepemimpinan dan hal-hal yang bersifat transenden.

Allahu Akbar 3X, Walillahilhamd.

Ikhwanie Kaum Muslimin yang berbahagia !

Anak-anak kita hendaknya mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otaknya, tapi semakin hari semakin jauh dari agamanya.  Sebuah uangkapan yang masyhur menyatakan:

"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk yang dimiliki. Tiadalah tambahan baginya melainkan semakin jauh dari Allah.

Kita sangat merindukan kader yang selalu siap pakai; siap menghadapi benturan-benturan; memiliki etos kerja yang tinggi; bekerja dengan penuh dedikasi ; memiliki banyak inisiatif dan siap berkorban sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim As dan keluarganya Siti sarah dan Ismail As.

Suatu pelajaran yang berharga dapat dipetik dari seorang pahlawan kebenaran, Jenderal Thalut ketika mengerahkan sejumlah manusia sebagai calon kader untuk mengadakan perlawanan terhadap penguasa zhalim, Jenderal Jalut. 80.000 orang calon kader yang dikerahkan hanya 5% yang lulus, berarti hanya 4.000 orang. 76.000 orang diantaranya gugur tidak dapat dikatagorikan sebagai kader. Kenapa ? Karena banyak yang tidak lulus setelah diuji dengan sebuah sungai. Pemimpinnya memberikan perhatian bahwa, "Kita akan diuji dengan sebuah sungai, siapa yang minum airnya bukanlah golonganku. Yang tidak minum itulah yang termasuk golonganku kecuali yang hanya sekedar menceduk dengan cedukan tangan". (S. Al-Baqarah: 249)

Tapi apa yang terjadi setelah sampai di tepi sungai itu, melihat airnya yang begitu bening mereka berlomba-lomba  terjun ke sungai itu. Mereka minum sepuas-puasnya bahkan berenang dan menyelam sesuka hati. Alasannya karena kita telah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, telah didera oleh lapar dan dahaga.

Mereka diperintahkan menyeberangi sungai, setelah mereka sampai diseberang sungai  tidak seorangpun diantara mereka yang telah memuas-muaskan dirinya itu yang siap menghadapi lawan. Mereka menyampaikan terus-terang kepada pemimpinnya bahwa kami tidak sanggup mengahdapi lawan yang begitu banyak. Ketidak sanggupan mereka menghadapi musuh bukan karena mereka lemah dari segi fisik, tapi mereka lemah mental karena melakukan pelanggaran.

Allahu Akabar 3X, walillahilhamd.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah.

Inilah yang melanda bangsa kita sekarang ini, bahkan juga melanda organisasi dan lembaga-lembaga Islam, baik itu organisasi sosial, organisasi massa atau organisasi politik. Karena hanya mengharapkan munculnya kader-kader tanpa upaya yang serius untuk itu.  Menangani pengkaderan secara serius saja, sejarah  telah mencatat bahwa hanya 5% yang bisa diharapkan. Apalagi kalau hanya santai dan tidak sunguh-sungguh. Akibatnya bukan kader yang memimpin dan mengendalikan kebijakan, maka  wajar jika selalu mendatangkan banyak masalah, tidak menambah kekuatan, tapi justru melemahkan.  Tapi kalau kita berhasil melahirkan kader walaupun sedikit, namun kader itu telah teruji kesabaran dan ketabahannya, pasti akan dapat berbuat banyak dan melakukan gebrakan-gebrakan yang penuh arti. Sebagaimana firman Allah SWT yang mengatakan:

"Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak karena izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar" (S.Al-Baqarah:249).

Calon-calon kader kita sekarang ujiannya bukan dalam bentuk sungai tapi kekayaan duniawi, kedudukan dan wanita. Manakala sudah berhadapan dengan materi  timbul rasa dendam terhadap kemiskinan  sehingga dengan cara  yang sangat sigap dia berusaha meraup kekayaan itu yang justru dapat melunturkan nilai-nilai kekaderannya.  Dia juga sudah mulai bermain-main dalam pencalonan untuk menjadi orang besar sehingga mulai menempuh segala macam cara untuk berhasil. Ujung-ujungnya memanfaatkan fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk memperkaya diri.

Demikian pula jebakan wanita. Sebagai calon-calon kader perjuangan  yang memiliki potensi menjadi pemimpin yang baik di masa depan, musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti berfikir untuk dapat menghancurkan nama baik dari calon-calon kader itu agar gugur di tengah jalan, tidak berlanjut kekaderannya. Terjadilah kasus-kasus skandal dengan artis, selingkuh dengan wanita-wanita cantik, media yang dikuasai oleh musuh-musuh Islam segera membesar-besarkan  sehingga tamatlah riwayat calon kader itu.

Hal lain yang patut menjadi contoh dari Nabi Ibrahim  seperti yang diungkap dalam sejarah bahwa beliau adalah manusia yang selalu terdepan jika mengangkat suatu pekerjaan.  Beliau selalu memilih pekerjaan yang paling berat untuk dikerja. Menurut prinsipnya, kalau pekerjaan ringan banyak saja yang dapat mengerjakan. Sehingga orang-orang yang menjadi pengikutnya selalu termotivasi untuk melakukan pekerjaan ini.

Sikap yang demikian ini adalah salah satu rahasia sukses yang dialami Nabi Ibrahim. Karena kalau seorang pemimpin tidak berani memikul tanggung jawab yang besar, hanya selalu mencari pekerjaan yang ringan-ringan dengan mengincer keuntungan dunia yang besar; hanya memperalat orang banyak untuk kepentingan dirinya; hanya menjadikan orang lain sebagai kuda tunggangan jangan harap akan dapat mengantar orang yang dipimpinnya kearah kesejahteraan dan ketentraman. Jangan harap akan mendapat kepercayaan penuh dan dapat meraih rasa cinta dari pengikutnya.

Saat sekarang ini kita merasakan langkanya pemimpin-pemimpin yang tampil memberikan teladan yang baik dan mengajak rakyatnya untuk  berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal soleh. Karenanya jika kita menemukan pemimpin yang memiliki akhlak dan kepribadian yang baik, memiliki komitmen yang kuat terhadap pelaksanaan ajaran/syariat Islam, maka tentu kita wajib mendukung dan menopang kepemimpinannya.

Allahu Akabar 3X, walillahilhamd.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah.
Nabi Ibrahim juga dikenal sebagai manusia yang patut diteladani dari segi kedermawanannya. Dicatat dalam sejarah bahwa Nabi Ibrahim adalah manusia yang paling senang menerima tamu. Kalau tiba waktu makan dan tidak ada orang yang ditemani makan dia keliling mencari teman makan. Nabi Ibrahim dikenal sebagai orang yang paling senang membantu kepada sesama manusia.  Kebiasaannya yang seperti inilah yang membuat orang sangat senang kepadanya.

Sifat dermawan ini hendaknya menjadi warna dari kehidupan seorang muslim. Karena lewat jiwa-jiwa yang dermawan inilah dakwah Islam dapat dikembangkan lebih maksimal dan dapat mengentaskan kemiskinan.  Pada zaman Rasulullah s.a.w. seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Auf  pernah menyumbang  40.000 dinar untuk perjuangan yang kalau dirupiahkan sekarang sama dengan  25,5 milyard rupiah. Beliau juga pernah membagi-bagikan kepada Veteran Badr uang sebanyak 50.000 dinar kepada 100 orang masing-masing 500 dinar senilai 300 juta rupiah lebih. Itu baru seorang dermawan, belum dermawan-dermawan yang lain. Sehingga dengan kedermawanan sahabat-sahabat Rasulullah yang dikaruniai oleh Allah SWT kekayaan banyak sekali hal-hal yang memerlukan pendanaan yang dapat diselesaikan.

Kita harus meyakini bahwa dengan berinfaq fi sabilillah, kita tidak akan menjadi miskin dan harta pun tidak akan berkurang, tetapi justru akan memberikan tambahan keberkahan. Rasulullah s.a.w. bersabda:

Setiap hari dua malaikat turun kepada separng hamba. Salah satunya berdoa: "Ya Allah berilah pengganti dari harta orang yang berinfaq" Dan yang lain berdoa: "Ya Allah binasakanlah harta orang yang tidak mau berinfaq" (Hadits Riwayat Bukhari _Muslim)

Memang terbukti bahwa perjalanan hidup orang yang pemurah dan dermawan  akan dilapangkan rezekinya dan  diberikan kebahagiaan dalam kehidupannya. Oleh karenanya, bagi kita yang memiliki kelapangan rezeki pada hari ini, marilah kita  mengambil bagian dari kewajibah ber-qurban. Masih ada waktu hingga 3 hari sesudah ini. Allah SWT mengingatkan kepada kita:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu pemberian yang banyak . Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dn berqurbanlah. Sesunguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang binasa. (S.Al-Kautsar : 1 – 3 )

Ayat ini bukan hanya sekedar memerintahkan kita memotong hewan seperti seekor sapi untuk 7 keluarga dan seekor kambing untuk satu keluarga, tapi juga memberi jaminan bahwa dengan menegakkan dan memperbaiki shalat  menjadi alasan bagi Allah untuk membela kita dan menghancurkan lawan-lawan Islam.

Semoga Allah SWT memberkati kita semua. Amien!

*khutbah ‘Iedul Adha 1427 H Masjid Baitul Karim, DPP Hidayatullah.
Jl Cipinang Cempedak-Jakarta Timur

Waktu

December 24th, 2006 by gwmukhlis

Tak seorang pun tahu kapan "WAKTU" mulai bergerak
Dan entah kapan sang "WAKTU" berhemti berjalan
Yang pasti sampai detik ini "DIA" terus bergerak dan terus bergulir
Entah Anda menghargai "WAKTU" dengan memanfaatkan sebaik-baiknya
Atau selalu menyia-nyiakan "WAKTU" dengan aktivitas yang tidak bermanfaat
"DIA" tetap diam dan terus berjalan tanpa memihak kepada siapa pun
Tanpa membantu siapa pun
Tetapi "DIA" bernilai untuk siapa pun
"DIA" tidak pernah kalah dan tidak akan usang
"DIA" selalu baru, selalu segar dan tegar

Hanya kitalah sebagai manusia
Lambat atau cepat pasti akan termakan oleh proses sang "WAKTU"
"WAKTU" untuk kehidupan seorang anak manusia
Tidak lama dan sangat terbatas
Maka sepantasnya harus kita isi kehidupan ini
Dengan "PRODUKTIVITAS" yang sangat bermanfaat
Baik bagi diri pribadi dan bagi manusia-manusia lainnya

Kesadaran akan "NILAI WAKTU" harus selalu diingatkan
Dipelihara dengan rasa syukur yang besar terhadap "SANG PENCIPTA"
Dengan demikian kita akan menghargai nilai keberadaan "SANG WAKTU"
Dan nilai-nilai diri kita sebagai manusia sehingga kita akan
Selalu berusaha untuk dapat menikmati "PROSES WAKTU" itu
Dengan kualitas kehidupan yang makin lama makin indah
Nikmat, bahagia dan sangat berarti

Nikmati "WAKTU"mu yang masih ada…!!!
Hargai "WAKTU"mu yang masih tersisa…!!!

Andrie Wongso (Action & Wisdom Motivation Training)

KEKUATAN DETERMINASI ”Jue xin de dong li”

December 23rd, 2006 by gwmukhlis

Di suatu sore hari, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan dan frustrasi yang menggantung di sana. Dia sebentar berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu, sebentar terduduk dan menghela napas panjang, kegiatan itu diulang berkali-kali seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.

Saat itu, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba, yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk sambil melamun. Dengan perasaan iseng dan kesal, diambilnya sebatang ranting dan segera sarang laba-laba itu pun menjadi korban kejengkelan dan keisengannya. Dirusak tanpa ampun.

Perhatiannya teralih sementara untuk mengamati ulah si laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya. Apakah laba-laba akan lari terbirit-birit atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain?

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban untuk waktu yang lama. Karena si laba-laba kembali ke tempatnya semula, mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap-merajut-melompat. Setiap helai benang dipintalnya dari awal, semakin lama semakin lebar, dan hampir menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya.

Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi dengan semangat penuh memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk kedua kalinya. Dengan perasaan puas dan ingin tahu, diamati ulah si laba-laba. Apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah pengrusakan sarang kedua kalinya?

Ternyata, untuk ketiga kalinya, laba-laba mengulangi kegiatannya. Ia kembali memulai dari awal dengan bersemangat, merayap-merajut-melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya, memintal membuat sarang sedikit demi sedikit.

Melihat dan mengamati ulah laba-laba, membangun sarang yang telah hancur untuk ke tigakalinya, saat itulah si pemuda mendadak sontak tersadarkan. Tidak peduli berapa kali sarang laba-laba dirusak dan dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah. Semangat binatang kecil sungguh luar biasa!!

Hal itu menimbulkan perasaan malu pada diri si pemuda. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu, dengan hati dan perasaan gundah. Karena, dia baru saja mengalami satu kali kegagalan! Melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati: Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi! Berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang. Seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali dari setiap kehancuran!

”Shi bai shi cheng gong de guo cheng”
~Kegagalan adalah bagian kecil dari proses kesuksesan.

Kegagalan bukan berarti kita harus menyerah apalagi putus asa. Kegagalan itu berarti kita harus introspeksi diri dan berikhtiar lebih keras dari hari kemarin. Selama kita masih memiliki tujuan yang menggairahkan untuk di capai, tidak pantas kita patah semangat di tengah jalan. Karena dalam kenyataannya, tidak ada sukses sejati yang tercipta tanpa melewati kegagalan. Jangan takut gagal!

Kegagalan adalah bagian kecil dari proses kesuksesan.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso (Action & Wisdom Motivation Training)

TIDAK ADA JALAN YANG RATA UNTUK SUKSES*

December 22nd, 2006 by gwmukhlis

Di pagi hari buta, terlihat seorang pemuda dengan bungkusan kain berisi bekal di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal.

Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan indah layaknya berada di surga. Sesampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua.

Setelah menyapa pemilik rumah, pemuda mengutarakan maksudnya "Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong kek, tunjukkan jalan yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung".

Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan pemuda.

"Ada 3 jalan menuju puncak, kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah atau sebelah kanan?"

"Kalau saya memilih sebelah kiri?"

"Sebelah kiri melewati banyak bebatuan." Setelah berpamitan dan mengucap terima kasih, si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian dengan peluh bercucuran, si pemuda terlihat kembali di depan pintu rumah si kakek.

"Kek, saya tidak sanggup melewati terjalnya batu-batuan. Jalan sebelah mana lagi yang harus aku lewati kek?"

Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi 3 jari tangannya menjawab, "Pilihlah sendiri, kiri, tengah atau sebelah kanan?"

"Jika aku memilih jalan sebelah kanan?"

"Sebelah kanan banyak semak berduri." Setelah beristirahat sejenak, si pemuda berangkat kembali mendaki. Selang beberapa jam kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek.

Dengan kelelahan si pemuda berkata, "Kek, aku sungguh-sungguh ingin mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah aku tempuh, rasanya aku tetap berputar-putar di tempat yang sama sehingga aku tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus kembali kemari tanpa hasil yang kuinginkan, tolong kek tunjukkan jalan lain yang rata dan lebih mudah agar aku berhasil mendaki hingga ke puncak gunung."

Si kakek serius mendengarkan keluhan si pemuda, sambil menatap tajam dia berkata tegas "Anak muda! Jika kamu ingin sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah! Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati, bahkan kadang jalan buntu pun harus kamu hadapi. Selama keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak gunung itu seperti yang kamu inginkan! dan nikmatilah pemandangan yang luar biasa !!! Apakah kamu mengerti?”

Dengan takjub si pemuda mendengar semua ucapan kakek, sambil tersenyum gembira dia menjawab "Saya mengerti kek, saya mengerti! Terima kasih kek! Saya siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi sampai mencapai puncak gunung ini.

Dengan senyum puas si kakek berkata, "Anak muda, Aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak gunung itu! Selamat berjuang!!!

Tidak ada jalan yang rata untuk sukses!

Sama seperti analogi Proses pencapaian mendaki gunung tadi. Untuk meraih sukses seperti yang kita inginkan, Tidak ada jalan rata! tidak ada jalan pintas! Sewaktu-waktu, rintangan, kesulitan dan kegagalan selalu datang menghadang. Kalau mental kita lemah, takut tantangan , tidak yakin pada diri sendiri, maka apa yang kita inginkan pasti akan kandas ditengah jalan.

Hanya dengan mental dan tekad yang kuat, mempunyai komitmen untuk tetap berjuang, barulah kita bisa menapak di puncak kesuksesan.

*Andrie Wongso (Action & Wisdom Motivation Training)

10 Hal Penghancur Karier

August 14th, 2006 by gwmukhlis

Gagal1 Mungkin Anda perlu waktu tiga bulan, bahkan setahun lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok.

Celakanya, hanya dalam waktu beberapa hari atau minggu kita bisa kehilangan pekerjaan tadi. Lho, kok bisa?

Tentu saja bisa dan itu karena kesalahan yang Anda lakukan. Tanpa disadari, Anda menghancurkan karier sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mematikan karier dalam sekejap.

1. KETIDAKMAMPUAN

Ketidakmampuan bisa berbuntut panjang. Penelitian menunjukkan, perusahaan selalu berpendapat, lebih baik punya pegawai yang secara konsisten mau belajar menambah keterampilannya daripada yang hanya berhenti pada satu kemampuan. Soalnya, pegawai tipe ini tidak akan berkembang dan cenderung tak mau bekerja sama.

2. SULIT KERJA TIM

Tidak ada seorang pun yang merasa senang hidup di samping seorang primadona. Perusahaan pasti akan kesulitan menghadapi karyawannya yang tak mau atau tak mampu bekerja dalam tim. Jadi, pastikan Anda bisa menjadi anggota tim kerja yang baik dan bisa bertindak sebagai makhluk sosial yang baik pula.

3. TAK TEPAT WAKTU

Jika pekerjaan harus selesai hari Rabu, misalnya, camkan di benak bahwa hari Kamis tidak akan pernah ada. Suatu organisasi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab, dipercaya. Tak menepati tenggat waktu bukan hanya mencerminkan seseorang yang tidak profesional, tapi juga berarti merusak bahkan menghancurkan jadwal kerja orang lain. Ujung-ujungnya, bos Anda yang bakal jadi sorotan. Jika sudah meiliki komitmen, tepati janji, apa pun yang terjadi. Hal ini sangat penting!

4. MEMANFAATKAN FASILITAS PERUSAHAAN

Fasilitas perusahaan seperti e-mail dan telepon yang ada adalah untuk keperluan bisnis perusahaan. Gunakan telepon untuk keperluan pribadi sesingkat mungkin dan jangan menerima pangggilan telepon yang bersifat pribadi dengan waktu bicara yang lama.

Juga jangan pernah menulis e-mail yang tidak ingin dibaca oleh bos karena banyak sistem yang dapat menyimpan kiriman-kiriman e-mail yang dihapus ke dalam satu berkas. Ingat pada orang-orang yang berjiwa kerdil yang mencari muka pada atasan. Lagipula, memanfaatkan e-mail milik perusahaan untuk keperluan pribadi, amat tidak diperbolehkan.

5. SOK EKSKLUSIF

Jangan mengisolasi diri atau bertingkah sok eksklusif. Kembangkan diri Anda dan jalin hubungan dengan rekan sekerja. Orang yang mempunyai jaringan yang efektif, akan memiliki jalur dan sumber informasi yang akurat sehingga dapat lebih mudah mencapai dan mengerti plotik organisasi di perusahaan tersebut.

Penelitian membuktikan, para pegawai yang mempunyai jaringan yang luas, umumnya cenderung menjadi seorang yang dapat bekerja dalam tim, banyak memberi andil pada sukses tim kerja, memiliki nilai lebih, sehingga bisa lebih cepat mendapat promosi serta kompensasi yang tinggi.

6. MENJALIN ASMARA DI KANTOR

Walaupun Anda dan si dia berada di ruangan atau divisi terpisah, menjalin hubungan asmara di kantor bukan merupakan pilihan yang baik. Jika kebetulan terlibat percintaan dengan bos, begitu ada kesempatan promosi, naik jabatan, pasti akan mejadi gunjingan. Minimal, rekan sekerja mencibir karena anggapan Anda naik posisi gara-gara dekat dengan atasan.

Yang juga tak mengeenakkan, hubungan asmara dengan atasan atau rekan sekerja yang putus di jalan, bisa membuat hubungan kerja jadi terganggu. Belum lagi harus menghadapi omongan rekan-rekan sejawat.

7. TAKUT AMBIL RISIKO

Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, maka orang lain pun tidak akan percaya pada Anda. Bersikaplah untuk dapat mengerjakan sesuatu dan mengambil risiko. Katakan dengan jujur, "saya belum pernah mengerjakan hal tersebut tapi saya akan berusaha mempelajari bagaimana caranya."

Jangan takut gagal atau khawatir membuat kesalahan. Jika keadaan menjadi kacau, segera ubah dan minta bantuan rekan atau atasan yang lebih jago. Pokoknya, coba untuk belajar pada semua kesempatan yang ada di setiap situasi. Ingat, lembur karena risiko kerja dapat membuat Anda menjadi lebih tertantang dan lebih cepat maju.

8. TANPA TUJUAN

Kegagalan bukanlah sesuatu keburukan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Yang buruk adaklah jika Anda tak punya tujuan untuk mencapai sesuatu. Jadi, susun rencana kegiatan sehari-hari untuk mencapai tujuan tadi. Percaya atau tidak, 80 persen dari keberhasilan yang diraih seseorang, 20 persennya datang dari aktivitas yang dilakukannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Atur mana yang menjadi prioritas dan fokuskan pada pekerjaan tersebut.

9. TERKESAN CEROBOH

Jujur atau tidak, penampilan selalu diperhitungkan. Orang selalu menilai semua penampilan serta tingkah laku Anda. Dengan kata lain, usahakan untuk tidak berpakaian seenaknya saat pergi ke kantor atau berpakaian yang tidak selayaknya dikenakan ke kantor.

Berlakulah jujur, berbicara dengan bahasa yang baik, sopan, tidak menggunakan bahasa dialek atau daerah. Bersikaplah sebagai seorang yang kompeten, mempunyai komitmen dan perilaku yang baik.

10. TAK MENJAGA MULUT

Ruangan kecil, gang, tangga berjalan, bahkan kamar mandi kantor, semua itu bukan milik pribadi Anda. Berhati-hatilah jika sedang berbicara di tempat-tempat umum tadi dan perhatikan pada siapa Anda berbicara.

Jangan bercanda mengenai kepercayaan, suku, rahasia perusahaan, gosip teman sekantor, dan juga pribadi-pribadi para bos. Semua pembicaraan mengenai hal itu bukanlah sesuatu yang bebas, tidak gratis, terutama sangat berharga dan amat berarti bagi pekerjaan Anda! *** (www.kompas.com)

Rancangan Keuangan untuk Karyawan

August 14th, 2006 by gwmukhlis

824724001 Apakah Anda seorang karyawan/karyawati? Jika ya, berarti Anda memiliki gaji tetap. Mungkin di luar gaji, Anda juga memiliki pendapatan lain, seperti komisi ataupun bonus.

Bagaimana perasaan Anda dengan gaji yang Anda peroleh?

Kalau Anda karyawan baru, mungkin Anda akan senang-senang saja karena sebelumnya memang tidak memiliki penghasilan. Tetapi, jika Anda tergolong karyawan yang sudah lama mungkin selalu merasa kurang dengan gaji yang diperoleh. Bila Anda tidak puas, apakah masalahnya selesai? Jawabannya adalah tidak.

Puas atau tidak puas sebenarnya bukan bergantung dari berapa besarnya gaji yang Anda peroleh, melainkan bagaimana Anda mengelola gaji tersebut. Termasuk, bagaimana mengelola pengeluaran Anda yang sumber dananya adalah dari gaji.

Selain rasa tidak puas, lebih parah lagi tidak sedikit kalangan yang malah tidak mandiri. Artinya, ada yang semakin tinggi ketergantungannya pada keluarga kendati telah memiliki penghasilan. Kenapa begitu? Karena ketika telah bekerja, kebutuhan dan keinginanan malah semakin berlipat ganda.

Jelas, perilaku semacam itu tidak wajar dan akan memberikan implikasi negatif dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ada baiknya Anda mulai berpikir membuat rancangan keuangan. Dan keliru besar bila Anda menganggap rancangan keuangan itu hanya untuk kalangan mapan. Rancangan keuangan mestinya telah dimiliki setiap orang pada saat mulai menjadi karyawan dan mulai berpenghasilan.

Rancangan keuangan hakikatnya perencanaan terhadap apa yang akan Anda lakukan untuk mencapai tujuan keuangan Anda dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Itu berarti sejak pertama kali Anda menerima gaji, Anda harus menetapkan apa tujuan keuangan Anda, katakanlah dalam 5 tahun ke depan untuk jangka pendek, 15 tahun ke depan untuk jangka menengah, dan tujuan keuangan setelah Anda pensiun. Ini tentu dengan asumsi penghasilan Anda diperoleh dengan menjadi karyawan semata.

Sebelum membuat rancangan keuangan untuk masing-masing periode, Anda mesti menentukan prioritas tujuan keuangan Anda. Prioritas, adalah pilihan. Tidak bisa semua kemauan dijadikan prioritas.

Prioritas juga berkaitan dengan karakteristik Anda, apakah tergolong risk taker atau penghindar risiko. Artinya, jika Anda tergolong takut dengan risiko, maka prioritas Anda mestinya tujuan keuangan bersifat proteksi atau melindungi dalam jangka panjang. Untuk itu, program asuransi bisa menjadi pilihan. Tetapi, jika Anda termasuk berani mengambil risiko, maka pilihan investasi ataupun malah tujuan membeli barang konsumsi bisa juga menjadi target.

Jangka pendek

Oke, umpamakan Anda tergolong berani mengambil risiko dan memiliki tujuan keuangan lebih bersifat konsumtif, misalnya memiliki kendaraan dalam tiga tahun ke depan. Kendaraan yang Anda inginkan itu tentu memiliki harga tertentu, katakanlah Rp XXX juta. Lalu Anda mulai menghitung berdasarkan gaji yang Anda peroleh.

Jika 30 persen gaji ditabung dan dengan asumsi pendapatan Anda tetap saja, boleh jadi dana itu terkumpul tetapi baru tiga tahun kemudian. Lalu bagaimana selama masa tiga tahun itu? Tentu saja Anda belum memiliki kendaraan pribadi.

Bila Anda tetap ingin memiliki kendaraan, sebenarnya Anda bisa membelinya dengan cara kredit. Sepanjang, Anda tetap mampu menyisihkan 30 persen gaji Anda sebagai angsuran kredit, Anda boleh saja mempertimbangkan pembelian melalui kredit bank atau multifinance. Tetapi, Anda memiliki risiko 30 persen penghasilan Anda setiap bulan mesti disisihkan untuk membayar angsuran.

Dan Anda berkemungkinan tidak bisa membayar jika Anda tidak disiplin dan atau terjadi sesuatu pada pekerjaan Anda. Karena itu, untuk mengeleminasi risiko tersebut, selain kendaraan itu mutlak diasuransikan, Anda sendiri pun sebaiknya mengikuti program asuransi.

Jangka menengah-panjang

Bagaimana dengan tujuan keuangan jangka menengah dan panjang? Di sini Anda juga mesti menetapkan prioritas apa yang Anda inginkan.

Jika dalam jangka pendek tujuan Anda memiliki kendaraan, maka sebaiknya tujuan keuangan jangka menengah-panjang tidak lagi bersifat konsumtif, melainkan lebih bersifat investasi dan proteksi. Artinya, Anda mesti menyiapkan uang cukup untuk digunakan bagi tujuan keuangan yang lain. Jadi, investasi dan proteksi di sini adalah "sarana" mencapai tujuan berikut.

Konkretnya, mungkin Anda ingin memiliki rumah, tabungan cukup, dan sebagainya yang cara mendapatkannya mestinya melalui hasil investasi. Dengan kata lain, Anda harus menyisihkan sebagian pendapatan untuk diinvestasikan dalam berbagai produk investasi dan proteksi, dimana dalam kurun waktu 10 - 15 tahun lagi hasil investasi itu mencukupi jika hendak Anda pergunakan untuk tujuan keuangan lain.

Semua itu baru akan tercapai jika Anda mampu mengelola penghasilan secara disiplin, khususnya dalam pengeluaran. Jika Anda mematok 30 persen penghasilan untuk membayar angsuran kredit kendaraan, lalu 15 persen untuk berinvestasi, maka sisanya yang 65 persen harus cukup untuk membiayai hidup sehari-hari. Konkretnya, Anda mesti beranggapan penghasilan Anda sebenarnya hanya 65 persen dari gaji. Itu yang harus Anda kelola dengan baik. (Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)

Cara Mendapatkan Lowongan Yang Tidak Diiklankan

August 14th, 2006 by gwmukhlis

Ar6327001 Sekitar 70-80 % lowongan untuk posisi terbaik di perusahaan biasanya tidak diiklankan. Seandainya lowongan tersebut diiklankan maka bisa jadi surat lamaran Anda akan tenggelam bersama ribuan surat dari pelamar lain.

Lalu bagaimana cara kita mendapatkan lowongan yang tidak diiklankan tersebut ? cara terbaik adalah dengan memperluas jaringan. Berikut beberapa tips bagi Anda untuk memperluas jangkauan jaringan dan tentu saja mendapatkan info lowongan yang sudah lama Anda incar.

1. Menghadiri acara perusahaan

Banyak perusahaan atau komunitas profesional kerap membuat acara pertemuan, entah seminar atau sekedar ulang tahun sebuah perusahaan. Jangan malas untuk hadir, karena di sanalah Anda bisa bertemu profesional dari berbagai perusahaan, untuk kemudian Anda bisa berkenalan dan mencari info tersembunyi tentang kebutuhan karyawan. Pilihlah acara yang berkaitan dengan pekerjaan atau keahlian khusus yang Anda miliki. Jika Anda mengincar jabatan public relation, jangan hadir di acara pertemuan para ahli geologi, misalnya.

2. Bergabung dengan klub profesi

Saat ini banyak komunitas profesi yang dibentuk, baik itu berupa milis (mailing list) atau klub yang anggotanya merupakan orang-orang dengan satu profesi. Komunitas ini biasanya memiliki agenda pertemuan rutin untuk berbagi pengalaman, bertukar ide atau informasi seputar profesi yang digeluti.  Carilah klub profesi yang sesuai dengan pekerjaan Anda, bisa lewat internet, majalah, atau bertanya pada teman.

3. Latih cara bicara

Untuk mengiklankan diri sendiri dalam berbagai pertemuan profesi, Anda perlu merangkai kata-kata dan melatihnya terus menerus. Isi ’iklannya’ bisa berupa siapa Anda, pengalaman kerja dan keahlian khusus yang Anda miliki.

Tidak perlu panjang lebar, cukup 20-30 detik waktu berbicara. Kalimat yang tersusun baik dan ’to the point’ membuat lawan bicara menangkap maksud yang ingin Anda sampaikan. Selain itu, gaya bicara yang efektif bisa menimbulkan kesan yang baik bagi Anda. (www.kompas.com)